preloader

Sejak hari itu, Darma mulai lebih sering duduk di beranda.

Bukan menunggu tamu.

Bukan menunggu kabar.

Bukan menunggu Mpu Sabak.

Hanya duduk.

Melihat hidup lewat perlahan.

Ada tukang sayur lewat.

Ada anak kecil jatuh dari sepeda, lalu bangkit sambil tertawa.

Ada ibu-ibu membawa belanjaan.

Ada bapak tua berjalan pelan dengan sandal yang suaranya menyeret tanah.

Darma tersenyum.

Dulu ia sering merasa hidup terjadi di ruang rapat, mimbar sambutan, kantor, atau grup WhatsApp.

Sekarang ia mulai sadar:

hidup juga terjadi di depan rumah.

Dalam langkah kecil.

Dalam sapaan pendek.

Dalam orang-orang yang lewat tanpa tahu bahwa mereka sedang mengajari seseorang tentang kesederhanaan.

Malamnya, Mpu Sabak datang.

“Kau mulai sering duduk di beranda,” katanya.

Darma mengangguk.

“Rasanya enak.”

“Apa yang kaulihat?”

“Tidak banyak.”

Mpu Sabak tersenyum.

“Justru karena tidak banyak, kau akhirnya bisa melihat.”

Darma menulis malam itu:

“Barangkali hidup tidak selalu perlu dicari jauh-jauh.

Sebagian maknanya lewat setiap hari di depan rumah, hanya saja aku terlalu sibuk untuk menyapanya.”

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *