
Ketika kita mulai putus asa melihat mereka yang berkuasa, jangan lupa melihat mereka yang bekerja.
Beberapa hari terakhir, negeri ini kembali dipenuhi kabar yang membuat dahi berkerut. Dugaan korupsi, saling tuding antarlembaga, dan angka-angka yang terlalu besar untuk dibayangkan, memenuhi ruang percakapan kita. Banyak orang mulai bertanya, “Masih adakah yang bisa dipercaya?”
Pertanyaan itu wajar. Sebab kepercayaan adalah tabungan yang paling mahal dalam sebuah bangsa. Sekali terkuras, mengisinya kembali membutuhkan waktu yang panjang.
Namun di tengah segala kegaduhan itu, ada pemandangan lain yang nyaris tak pernah menjadi berita.
Pagi ini, seorang petugas kebersihan tetap menyapu jalan sebelum matahari terbit. Seorang perawat tetap menyapa pasien dengan senyum yang sama. Seorang guru tetap menulis pelajaran di papan tulis. Seorang kasir tetap menghitung uang dengan teliti. Seorang sopir mengantar penumpangnya sampai tujuan dengan selamat. Seorang pegawai toko tetap melayani pembeli dengan ramah, meski mungkin semalam ia sendiri sedang memikirkan biaya sekolah anaknya.
Mereka tidak tampil di layar televisi. Tidak menjadi perbincangan di media sosial. Tidak menggelar konferensi pers.
Mereka hanya bekerja.
Dan justru karena itulah, negeri ini masih berjalan.
Kita sering mengira sebuah negara hanya ditopang oleh mereka yang duduk di kursi-kursi tinggi. Padahal, lebih sering, sebuah negara bertahan karena jutaan orang biasa yang setiap hari memilih untuk tetap melakukan hal yang benar.
Mereka mungkin tidak pernah menerima penghargaan. Nama mereka tidak tercetak dalam sejarah. Tetapi kejujuran mereka menjadi batu bata yang menopang rumah besar bernama Indonesia.
Sesungguhnya, korupsi memang dapat merusak bangunan. Namun kejujuran yang dikerjakan setiap hari juga sedang membangunnya kembali—pelan, sunyi, dan hampir tanpa tepuk tangan.
Barangkali itulah sebabnya Tuhan masih bersabar kepada negeri ini. Bukan karena para pemimpinnya selalu benar, melainkan karena masih ada begitu banyak orang baik yang diam-diam menjaga kehidupan tetap berjalan.
Maka, jika hari-hari ini kita merasa kecewa kepada mereka yang berkuasa, jangan biarkan kekecewaan itu membuat kita lupa menghormati mereka yang bekerja dengan jujur.
Sebab masa depan Indonesia mungkin tidak sedang disangga oleh mereka yang paling sering muncul di berita.
Melainkan oleh orang-orang biasa yang setiap pagi memilih datang tepat waktu, bekerja dengan hati, dan pulang tanpa membawa pulang yang bukan haknya.
Mereka mungkin tidak dikenal banyak orang.
Tetapi merekalah yang sesungguhnya sedang menyangga negeri.