“Kesibukan sering kali membuat seorang pemimpin terlihat produktif. Padahal, belum tentu ia sedang menjalankan fungsi kepemimpinannya.”
Setiap pagi seorang Kepala Toko datang lebih awal. Ia membuka brankas, memeriksa kas, mengecek stok, memastikan etalase bersih, membaca laporan penjualan semalam, membalas pesan dari kantor pusat, memonitor target harian, dan menyelesaikan berbagai persoalan operasional.
Hari itu terasa penuh. Sangat penuh.
Namun menjelang toko tutup, ia baru menyadari satu hal: hari ini ia hampir tidak berbicara kepada timnya selain memberi instruksi.
Ia bekerja sepanjang hari, tetapi hampir tidak memimpin.
Padahal bekerja dan memimpin adalah dua hal yang berbeda.
Bekerja berarti menyelesaikan tugas.
Memimpin berarti mengembangkan manusia.
Seorang pemimpin memang harus memastikan target tercapai, transaksi berjalan lancar, stok aman, dan laporan selesai tepat waktu. Namun semua itu pada akhirnya dikerjakan melalui manusia. Ketika manusia diabaikan, keberhasilan operasional hanya akan bertahan sesaat.
Anak buah bukan sekadar tenaga kerja. Mereka adalah pribadi yang setiap hari membawa semangat, kekhawatiran, kelelahan, bahkan persoalan keluarganya ke tempat kerja. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar instruksi. Mereka membutuhkan perhatian, arahan, kepercayaan, dan teladan.
Sering kali sebuah tim tidak kehilangan kemampuan bekerja. Mereka hanya kehilangan energi karena terlalu lama bekerja tanpa merasa dipedulikan.
Ada pemimpin yang setiap hari mengecek omzet, tetapi tidak pernah bertanya, “Bagaimana kabarmu hari ini?”
Ada yang begitu teliti memeriksa selisih kas, tetapi tidak menyadari salah satu anggota timnya sedang kehilangan kepercayaan diri setelah melakukan kesalahan.
Ada pula yang selalu berbicara tentang target, tetapi lupa mengingatkan bahwa pekerjaan ini juga tentang melayani manusia dengan hati.
Pemimpin yang baik tidak hanya mengawasi pekerjaan. Ia juga menjaga semangat orang-orang yang mengerjakannya.
Sebab budaya kerja tidak lahir dari SOP semata. Budaya kerja tumbuh dari perilaku pemimpinnya setiap hari. Cara ia menyapa, mendengar, mengoreksi, menghargai, dan menghadapi kesalahan akan menjadi pelajaran yang jauh lebih kuat daripada materi pelatihan mana pun.
Mungkin itulah sebabnya ada tim yang tetap bersemangat meskipun targetnya berat, sementara ada tim lain yang kehilangan gairah meskipun fasilitasnya lengkap. Yang membedakan sering kali bukan pekerjaannya, melainkan pemimpinnya.
Seorang Kepala Toko, supervisor, manajer, atau siapa pun yang dipercaya memimpin, sesungguhnya sedang memegang dua tanggung jawab sekaligus: memastikan pekerjaan selesai dan memastikan manusianya tetap bertumbuh.
Kesibukan operasional memang tidak pernah habis. Laporan akan selalu datang. Target akan selalu berganti. Masalah baru akan selalu muncul.
Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa melakukan pekerjaan yang paling penting: memimpin manusia.
Karena pada akhirnya, seorang pemimpin tidak hanya dikenang karena target yang pernah dicapai, melainkan karena orang-orang yang pernah bertumbuh di bawah kepemimpinannya.
“Anak buah tidak hanya membawa pulang gaji. Mereka juga membawa pulang suasana hati, kepercayaan diri, dan semangat yang diciptakan oleh pemimpinnya.”
–www.deneff.my.id
