
Sekitar seminggu yang lalu, saya menerima sebuah tawaran yang membuat saya tersenyum sekaligus termenung.
Saya ditawari bisa diwisuda dengan gelar S1. Tanpa kuliah.
Entah bagaimana caranya. Yang jelas, saya tidak perlu duduk di ruang kelas, tidak perlu mengerjakan tugas, tidak perlu begadang menghadapi ujian, bahkan tidak perlu merasakan gugup saat sidang skripsi. Tinggal mengikuti prosedur tertentu, lalu suatu hari memakai toga dan pulang membawa gelar.
Saya tidak marah. Saya juga tidak tergoda.
Saya justru teringat sebuah tempat yang jauh lebih sederhana: warung kopi.
Di warung kopi tidak ada ijazah. Tidak ada transkrip nilai. Tidak ada wisuda.
Namun, di sanalah saya sering bertemu orang-orang yang ilmunya ditempa oleh kehidupan. Sopir yang hafal membaca karakter manusia, pedagang yang mengerti arti kepercayaan, tukang bangunan yang paham pentingnya ketelitian, pensiunan guru yang tetap mencintai ilmu meski tak lagi mengajar.
Warung kopi adalah universitas orang biasa.
Bedanya, di sana tidak ada gelar yang dibagikan. Yang ada hanyalah pengalaman yang perlahan berubah menjadi kebijaksanaan.
Lalu saya berpikir, jangan-jangan zaman ini mulai lebih menyukai simbol daripada proses.
Kita ingin tampak pandai tanpa mau belajar. Ingin terlihat berhasil tanpa mau berjuang. Ingin dihormati karena gelar, bukan karena karya.
Padahal, nilai sebuah pendidikan bukan terletak pada toga yang dikenakan beberapa jam, melainkan pada cara berpikir yang dibangun bertahun-tahun.
Ijazah memang penting. Gelar juga patut dihormati jika diperoleh dengan jujur. Namun, gelar hanyalah penanda. Ia bukan pengganti pengetahuan, apalagi pengganti integritas.
Ironisnya, universitas yang sesungguhnya justru sering kita abaikan. Kehidupan mengajar kita setiap hari. Orang-orang sederhana menjadi dosennya. Kesalahan menjadi ujiannya. Kejujuran menjadi skripsinya. Dan karakter menjadi ijazah yang sesungguhnya.
Mpu Sabak pernah berkata sambil mengaduk kopi, “Nak, kopi instan memang cepat jadi. Tetapi kebijaksanaan tidak pernah instan.”
Saya mengangguk.
Mungkin karena saya sadar, jauh lebih baik pulang dari warung kopi membawa cara berpikir yang lebih dewasa daripada pulang dari sebuah upacara membawa gelar yang tidak pernah benar-benar diperjuangkan.
— DenEff