Keesokan harinya, Darma datang ke kantor lebih pagi dari biasanya.
Bukan karena ada pekerjaan mendesak.
Justru karena ia ingin merasakan sebentar suasana sebelum semua orang datang.
Ruang kerja masih sepi.
Lampu baru sebagian menyala.
Meja-meja belum dipenuhi suara ketikan, dering telepon, dan percakapan kecil tentang pekerjaan yang tidak pernah benar-benar kecil.
Darma duduk di kursinya.
Di hadapannya ada agenda rapat.
Tiga pertemuan hari itu.
Dua undangan alumni.
Satu janji menjenguk teman sakit.
Dan satu pesan dari anak perempuannya di luar negeri yang belum sempat ia balas sejak semalam.
Ia membuka pesan itu.
Papi, di sini mulai dingin. Mami sehat? Jangan terlalu capek ya.
Darma membaca kalimat terakhir itu dua kali.
Jangan terlalu capek ya.
Anaknya menulis dari negeri jauh.
Tetapi kalimatnya terasa seperti datang dari kamar sebelah.
Darma mengetik balasan.
Lalu menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Akhirnya ia hanya menulis:
Papi sehat. Mami juga sehat. Kamu juga jaga diri. Doa Papi selalu.
Ia menatap pesan itu.
Terlalu pendek.
Tetapi cukup.
Setidaknya untuk pagi itu.
Menjelang siang, rapat alumni SMA berlangsung melalui panggilan video.
Seperti biasa, nama Darma disebut pertama.
“Pak Darma saja yang memimpin.”
“Pak Darma yang paling paham.”
“Kalau Pak Darma turun tangan, beres.”
Darma tersenyum.
Dulu kalimat-kalimat itu membuat dadanya hangat.
Hari itu, entah mengapa, kalimat yang sama membuat pundaknya terasa berat.
Ia teringat ucapan Mpu Sabak:
“Ada perbedaan antara menjadi berguna dan menjadi tidak tergantikan.”
Darma menarik napas.
Lalu untuk pertama kalinya ia berkata:
“Bagaimana kalau kali ini yang memimpin bukan saya?”
Layar rapat mendadak hening.
Beberapa wajah saling melihat.
Seolah Darma baru saja mengumumkan sesuatu yang berbahaya.
Darma tersenyum.
“Kita perlu memberi kesempatan kepada yang lebih muda.”
Seseorang tertawa kecil.
“Lho, Pak Darma masih muda kok.”
Darma ikut tertawa.
“Justru karena masih muda, saya ingin belajar menyerahkan sebelum terlambat.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Di layar, wajah-wajah itu tampak seperti anak sekolah yang tiba-tiba diminta maju ke depan kelas.
Darma menyadari sesuatu:
selama ini mungkin bukan hanya ia yang sulit melepaskan.
Mereka pun belum terbiasa menerima.
Malamnya, setelah pukul delapan, Darma duduk lagi di ruang kerja.
Istrinya sudah tidur.
Rumah kembali pelan.
Ia menunggu suara tongkat.
Namun kali ini, tidak ada.
Tok.
Tok.
Tok.
Tidak terdengar.
Darma tersenyum getir.
“Mpu?”
Tidak ada jawaban.
Ia membuka buku catatan, lalu menulis:
Hari ini aku mencoba mundur setengah langkah. Ternyata orang-orang lebih terkejut daripada aku sendiri.
Baru setelah titik terakhir ia tulis, suara itu datang.
Tok.
Tok.
Tok.
Darma mengangkat kepala.
Mpu Sabak sudah berdiri di ambang pintu.
“Bagus,” katanya.
“Apa?”
“Kau mulai belajar bahwa mundur tidak selalu berarti kalah.”
Darma menatapnya.
“Rasanya tidak enak.”
“Tentu.”
“Mengapa?”
“Karena selama ini kau terbiasa berdiri di depan.”
Mpu Sabak masuk perlahan, lalu duduk.
“Darma,” katanya, “orang yang terlalu lama di depan kadang lupa bahwa dari belakang pun ia masih bisa menjaga arah.”
Darma menutup bukunya.
“Maksud Mpu?”
“Pemimpin yang dewasa tidak selalu harus terlihat.”
“Lalu?”
“Kadang ia cukup memastikan orang lain tidak berjalan ke jurang.”
Malam itu, Darma tidak merasa sedang kehilangan tempat.
Untuk pertama kalinya, ia membayangkan bentuk kepemimpinan lain:
tidak selalu memegang mikrofon,
tidak selalu memberi sambutan,
tidak selalu duduk di kursi tengah,
tetapi hadir sebagai pagar yang tidak berisik.
Mpu Sabak tersenyum.
“Besok kau akan diuji lagi.”
“Diuji apa?”
“Apakah kau sungguh ingin melahirkan pemimpin baru, atau hanya ingin dipuji karena mengatakan itu.”
Darma terdiam.
Sebab ia tahu, pertanyaan itu baru saja membuka pintu yang lebih dalam.
BERSAMBUNG…