Pagi berikutnya, ujian itu datang lebih cepat daripada yang Darma sangka.
Pukul tujuh lewat dua belas menit, teleponnya berdering.
Nama yang muncul: Roni Alumni SMA.
“Pak Darma, maaf pagi-pagi. Ini teman-teman masih bingung. Kalau bukan Bapak yang memimpin, siapa yang pantas?”
Darma memejamkan mata sebentar.
Pertanyaan itu terdengar sopan.
Tetapi ia tahu, di baliknya ada harapan lama:
agar Darma kembali berkata, “Ya sudah, saya saja.”
Dulu ia sering kalah oleh kalimat itu.
Bukan karena dipaksa.
Melainkan karena diam-diam ia suka merasa diperlukan.
“Ron,” kata Darma pelan, “coba sebut tiga nama yang menurutmu bisa.”
Di seberang sana hening.
“Tiga nama, Pak?”
“Iya. Jangan cari yang sempurna. Cari yang mau belajar.”
Roni tertawa gugup.
“Kalau begitu banyak yang belum siap, Pak.”
“Tidak ada orang siap sebelum diberi kesempatan.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Darma sendiri terkejut mendengarnya.
Seperti bukan ia yang berkata.
Atau mungkin, seperti ada Mpu Sabak kecil yang duduk di ujung lidahnya.
Roni menarik napas.
“Baik, Pak. Nanti saya coba usulkan.”
“Bagus. Saya tetap bantu. Tapi tidak di depan.”
“Di belakang layar, Pak?”
Darma tersenyum.
“Di belakang manusia. Biar layarnya tidak terlalu penting.”
Setelah telepon ditutup, Darma duduk cukup lama.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sedang menghindar dari tanggung jawab.
Ia sedang mengubah bentuk tanggung jawab. Dan itu ternyata lebih sulit daripada sekadar memimpin.
BERSAMBUNG…