preloader

Siang harinya, Darma menerima pesan dari anak laki-lakinya.

Pi, nanti malam aku pulang agak malam. Ada urusan.

Darma membaca pesan itu sambil berdiri di depan jendela kantor.

Anak laki-lakinya itu sudah dewasa.

Sudah bekerja.

Sudah bisa mengambil keputusan sendiri.

Tetapi setiap kali membaca kalimat pulang agak malam, hati Darma tetap menjadi hati seorang ayah yang menunggu suara pintu dibuka.

Ia mengetik:

Hati-hati.

Lalu berhenti.

Ingin menambahkan:

Urusan apa? Dengan siapa? Sampai jam berapa?

Tetapi ia hapus.

Akhirnya ia kirim hanya dua kata:

Hati-hati ya.

Pesan itu sudah terkirim ketika jari Darma kembali bergerak. Ia mengetik lagi: *Pulang jam berapa? Dengan siapa?*

Beberapa detik ia menatap kalimat itu. Lalu ia menghapusnya. Bukan karena ia tidak ingin tahu, melainkan karena malam itu ia mulai curiga bahwa sebagian kekhawatiran orang tua sering menyamar sebagai perhatian.

Malamnya, setelah pukul delapan, rumah kembali sunyi.

Istrinya sudah tidur.

Darma duduk di ruang kerja, tetapi pikirannya berada di jalan.

Ia memandang jam.

Pukul sembilan.

Pukul sembilan tiga puluh.

Pukul sepuluh lewat sedikit.

Ia berusaha berdoa, tetapi yang keluar hanya kekhawatiran yang memakai pakaian doa.

Tok.

Tok.

Tok.

Mpu Sabak muncul di ambang pintu.

“Kau sedang menunggu?”

Darma mengangguk.

“Anakku belum pulang.”

“Sudah besar?”

“Sudah.”

“Masih anakmu?”

“Selamanya.”

Mpu Sabak tersenyum.

“Nah, di situlah sulitnya menjadi orang tua.”

“Apa?”

“Anak bertambah dewasa, tetapi hati orang tua sering tetap menunggu di depan pintu.”

Darma menunduk.

Mpu Sabak berkata pelan:

“Melepaskan anak bukan berarti berhenti mencintai. Melepaskan anak berarti mengubah cara mencintai.”

Darma menatap jam lagi.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak mengambil telepon.

Ia hanya berdoa: “Tuhan, jagalah dia di tempat yang tidak bisa kujangkau.”

BERSAMBUNG…

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *