preloader

Di Banyuwangi, ada sebuah legenda yang tidak hanya hidup sebagai cerita rakyat, tetapi juga sebagai cermin batin sebuah peradaban.

Kisah itu tentang Sri Tanjung.

Ia perempuan yang setia, tetapi difitnah. Ia dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Dalam kemarahan dan kegelapan hati, Patih Sidopekso, suaminya sendiri, mempercayai tuduhan itu. Sri Tanjung dihukum sebelum sungguh-sungguh didengar.

Di sinilah letak luka terdalam sebuah kisah: bukan hanya karena ada fitnah, tetapi karena kebenaran tidak diberi kesempatan berbicara.

Legenda mengatakan, sebelum wafat, Sri Tanjung berpesan: bila darahnya berbau busuk, berarti ia bersalah; tetapi bila air menjadi harum, berarti ia suci. Setelah tubuhnya jatuh ke sungai, air itu justru mengeluarkan bau wangi.

Banyu. Wangi.

Air yang harum.

Dari situlah nama Banyuwangi menemukan makna batinnya: sebuah tempat yang lahir dari kesaksian kebenaran yang terlambat didengar.

Kisah ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya dalam. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan yang terburu-buru menghakimi dapat menjadi sangat berbahaya. Apalagi bila kekuasaan itu lebih cepat percaya pada bisik-bisik daripada pada suara yang tertindas.

Dalam kehidupan hari ini, legenda Sri Tanjung tidak hanya bicara tentang rumah tangga, cinta, atau kesetiaan. Ia juga bicara tentang cara kita memimpin, melayani, dan mengambil keputusan.

Sebuah birokrasi, misalnya, bisa menjadi seperti Patih Sidopekso ketika ia lebih sibuk memegang aturan daripada mendengar manusia. Ketika laporan diterima sebagai kebenaran mutlak. Ketika keluhan rakyat dianggap gangguan. Ketika suara kecil dianggap tidak penting karena tidak datang dari ruang rapat, tidak memakai map resmi, dan tidak disampaikan dengan bahasa yang rapi.

Padahal, sering kali kebenaran datang dengan pakaian sederhana.

Ia datang sebagai keluhan ibu-ibu di pasar. Ia datang sebagai suara nelayan yang takut lautnya rusak. Ia datang sebagai petani yang bingung dengan harga panen. Ia datang sebagai warga kecil yang tidak pandai menyusun proposal, tetapi sangat paham bagaimana hidupnya berubah oleh sebuah kebijakan.

Maka, birokrasi yang baik bukan hanya birokrasi yang bergerak cepat. Ia juga harus mampu berhenti sejenak. Mendengar. Memeriksa. Menimbang. Bertanya: jangan-jangan yang selama ini dianggap masalah, justru sedang membawa pesan kebenaran.

Sebab tidak semua yang gaduh itu salah. Tidak semua yang diam itu baik-baik saja. Dan tidak semua yang tertulis dalam laporan menggambarkan seluruh kenyataan.

Legenda Sri Tanjung mengingatkan kita bahwa keputusan yang tidak mendengar dapat meninggalkan penyesalan panjang. Kebenaran mungkin akhirnya muncul, tetapi kadang ia muncul setelah luka terlanjur terjadi.

Karena itu, dalam setiap kunjungan kerja, yang paling penting barangkali bukan hanya melihat bangunan, memeriksa program, atau mendengar paparan resmi. Yang lebih penting adalah menangkap suara yang tidak selalu masuk ke dalam sambutan.

Suara rakyat kecil.

Suara yang pelan.

Suara yang mungkin tidak pandai menyusun kalimat, tetapi menyimpan kenyataan.

Banyuwangi memberi kita pelajaran indah: air yang keruh pun bisa menjadi wangi, bila kebenaran diberi ruang untuk menampakkan dirinya.

Dan mungkin, tugas pemimpin hari ini adalah menjaga agar tidak ada lagi Sri Tanjung-Sri Tanjung kecil yang dihukum sebelum didengar.

Sebab birokrasi yang mendengar bukanlah birokrasi yang lemah.

Ia justru birokrasi yang matang.

Ia tahu bahwa di balik setiap data, ada manusia. Di balik setiap angka, ada wajah. Di balik setiap laporan, ada denyut kehidupan yang tidak boleh diabaikan.

Dari Banyuwangi, kita belajar: kekuasaan boleh tegas, tetapi jangan kehilangan telinga. Aturan boleh kuat, tetapi jangan membungkam nurani.

Karena pemerintahan yang baik bukan hanya mampu membuat air mengalir.

Ia juga harus mampu menjaga agar air kehidupan rakyat tetap jernih.

Dan bila mungkin, menjadi wangi.

deneff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *