Malam itu Darma berdiri cukup lama di depan cermin kamar mandi.
Bukan untuk merapikan rambut.
Bukan untuk memastikan kemejanya pantas.
Ia hanya memandang wajahnya sendiri.
Kerut di dahi.
Rambut yang semakin banyak putih.
Mata yang masih tajam, tetapi tidak seterang dulu.
Ia tersenyum kecil.
“Sudah tua juga rupanya.”
Dari ruang kerja terdengar suara yang dikenalnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Darma keluar.
Mpu Sabak sudah duduk.
“Baru bercermin?” tanya Mpu.
Darma tertawa.
“Kelihatan?”
“Orang yang baru bercermin biasanya membawa wajah yang baru ditemukan.”
Darma duduk.
“Mpu, mengapa semakin tua orang semakin sering melihat masa lalu?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Karena cermin hanya menunjukkan wajah hari ini.”
“Tetapi hati selalu membawa wajah-wajah kemarin.”
Darma terdiam.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Jangan takut melihat wajah yang menua.”
“Takutlah kalau hatimu tidak ikut dewasa.”
Ia menulis bukan untuk mengingat, melainkan agar tidak mengulanginya:
“Tua adalah keadaan tubuh.
Dewasa adalah keputusan jiwa.”
Ia menutup buku catatan.
Lalu tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus melawan usia. Ia hanya perlu menjalaninya dengan lebih jujur.