Sejak rapat itu, Darma mulai sengaja memilih kursi belakang.
Tidak selalu.
Tetapi cukup sering.
Di rapat alumni SD.
Di pertemuan SMP.
Di acara SMA.
Bahkan di kantor, ia mulai lebih banyak mendengar sebelum berbicara.
Awalnya orang-orang bingung.
“Pak Darma kok diam?”
Darma tersenyum.
“Sedang belajar.”
“Belajar apa, Pak?”
“Belajar tidak selalu menjadi suara pertama.”
Malamnya, Mpu Sabak datang seperti biasa.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia duduk sambil tersenyum.
“Bagaimana rasanya mendengar dari belakang?”
Darma menghela napas.
“Banyak hal yang dulu tidak kudengar.”
“Apa contohnya?”
“Orang muda ternyata punya ide. Hanya saja selama ini mereka terlalu cepat kalah oleh suara orang tua.”
Mpu Sabak mengangguk.
“Suara yang terlalu besar kadang tidak bermaksud membungkam.”
“Tetapi tetap saja membuat suara kecil merasa tidak perlu tumbuh.”
Darma menunduk.
Ia teringat banyak rapat.
Banyak percakapan.
Banyak keputusan.
Mungkin selama ini ia tidak memaksa.
Tetapi kehadirannya terlalu dominan.
Ia tidak perlu menulis banyak. Satu kalimat sudah cukup:
“Kadang cara terbaik membimbing bukan menambahkan suara,
melainkan menyediakan ruang agar suara lain berani lahir.”
Mpu Sabak berdiri hendak pergi.
Sebelum keluar, ia berkata:
“Darma, pemimpin yang matang tidak takut suaranya berkurang.”
“Ia justru bersyukur ketika suara lain mulai terdengar.”
Darma menutup buku catatannya.
Di luar, malam tenang. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang juga mulai tenang.