Malam itu Darma memandangi pintu kamar.
Istrinya sudah tidur.
Seperti biasa.
Pukul delapan.
Seperti biasa.
Dulu, Darma pernah menganggap kebiasaan itu lucu.
Kadang ia menggoda istrinya.
“Belum jam delapan kok sudah bersiap tidur?”
Istrinya hanya menjawab santai:
“Daripada menunggu ngantuk, lebih baik menyambutnya.”
Mereka tertawa.
Tetapi malam itu, setelah percakapannya dengan Mpu Sabak tentang rel kereta, Darma memandang kebiasaan istrinya dengan cara berbeda.
Selama bertahun-tahun, istrinya tidak banyak bicara tentang hidup.
Tidak selalu mengerti urusan alumni.
Tidak terlalu tertarik pada rapat.
Tidak ikut sibuk mengejar nama.
Tetapi ia selalu ada.
Di meja makan.
Di ruang keluarga.
Di doa malam.
Di kalimat sederhana:
“Jangan lupa makan.”
“Jangan terlalu capek.”
“Hati-hati di jalan.”
Darma baru sadar, kadang cinta tidak datang sebagai pidato panjang.
Kadang cinta datang sebagai pengingat kecil yang diulang seumur hidup.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Darma langsung berkata:
“Mpu, aku dan istriku banyak berbeda.”
Mpu Sabak tersenyum.
“Bagus.”
“Kok bagus?”
“Kalau sama persis, salah satu tidak perlu ada.”
Darma tertawa pelan.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Perkawinan bukan mencari orang yang selalu sama.”
“Perkawinan adalah belajar berjalan bersama orang yang tetap menjadi dirinya sendiri.”
Darma menunduk.
Ia membiarkan sunyi menyisakan satu kalimat:
“Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari makna besar,
sampai lupa bahwa kasih paling setia sering hadir dalam kebiasaan kecil.”
Di kamar, istrinya tidur tenang.
Di ruang kerja, Darma duduk lebih lama.
Bukan karena gelisah. Tetapi karena untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa ditemani oleh rasa syukur.