preloader

Keesokan paginya, Darma bangun dan menemukan secangkir teh hangat di meja makan.

Seperti biasa.

Namun pagi itu, sesuatu yang biasa terasa tidak biasa.

Ia memandang teh itu cukup lama.

Istrinya sedang menyiapkan sarapan.

“Kenapa tehnya dipandangi?” tanya istrinya.

Darma tersenyum.

“Baru sadar.”

“Sadar apa?”

“Bahwa selama bertahun-tahun, aku minum perhatian tanpa pernah benar-benar mengucapkan terima kasih.”

Istrinya berhenti sebentar.

Lalu tertawa kecil.

“Wah, semalam habis ikut seminar perkawinan ya?”

Darma ikut tertawa.

“Semacam itu.”

Malamnya, setelah pukul delapan, Darma bercerita kepada Mpu Sabak.

Mpu Sabak tersenyum.

“Manusia sering mencari mukjizat besar.”

“Padahal setiap pagi ada seseorang yang masih bersedia membuatkan teh.”

Darma menunduk.

Darma hanya menandai malam itu dengan satu catatan:

“Syukur bukan menemukan hal baru.

Syukur adalah melihat kembali hal lama dengan mata yang diperbarui.”

Di kamar, istrinya tidur.

Di meja, gelas air putih menunggu.

Dan Darma merasa, hidupnya sebenarnya tidak miskin berkat. Ia hanya terlalu sering lupa menghitungnya.

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *