preloader

Pagi-pagi

negara mengetuk pintu rumahku.

Ia membawa sebungkus keamanan

dan sebotol ketertiban.

“Silakan diminum,” katanya,

“supaya pikiranmu tidak masuk angin.”

Aku membaca petunjuk pemakaian:

**Minumlah tiga kali sehari.

Sesudah makan.

Sebelum bicara.**

*

Di sekolah,

anak-anak belajar berhitung:

satu negara,

satu suara,

satu pendapat,

dan nol pertanyaan.

Bu Guru bertanya,

“Dua ditambah dua berapa?”

Murid-murid serempak menjawab,

“Tergantung keputusan pemerintah.”

Bu Guru tersenyum lega.

Pelajaran matematika

akhirnya selaras dengan pembangunan.

*

Televisi memberitakan:

Hari ini kebebasan

telah diamankan petugas

karena berkeliaran tanpa izin.

Kebenaran masih diperiksa

di kantor polisi.

Sementara kebohongan

diangkat menjadi juru bicara

karena dinilai komunikatif,

loyal,

dan tidak banyak bertanya.

*

Kamus nasional diperbarui.

“Kritik” berarti kurang piknik.

“Protes” berarti belum kebagian.

“Takut” berarti cinta tanah air.

“Diam” berarti warga teladan.

Adapun “merdeka”

masih tercantum di halaman depan,

tetapi maknanya

sedang dalam proses pengadaan.

*

Negara lalu memasang kamera

di ruang tamu,

di kamar tidur,

dan di dalam kepala.

“Jangan khawatir,” katanya,

“kami hanya menjaga

agar mimpimu tidak radikal.”

Sejak itu aku tidur

dengan posisi sempurna:

tangan di samping,

mulut terkunci,

dan cita-cita

menghadap tembok.

*

Tetanggaku ditangkap

karena menyimpan tanda tanya.

Barang bukti ditemukan

di bawah bantal:

Mengapa?

Untuk siapa?

Sampai kapan?

Polisi bilang,

tiga tanda tanya itu

dapat meledakkan ketenangan umum.

*

Untunglah masih ada penyair

yang memelihara kata-kata

di belakang rumah.

Kebenaran disembunyikannya

di dalam pot bunga.

Keberanian dijemur

bersama celana dalam.

Dan kebebasan—

makhluk kurus yang selalu diburu itu—

diberinya makan

dengan puisi-puisi kecil.

*

Malam-malam

negara kembali mengetuk pintu.

“Apakah Anda bahagia?”

Aku ingin menjawab tidak.

Namun kulihat mikrofon

menyembul dari lubang kunci.

Maka kujawab lantang,

“Bahagia sekali!”

Negara tersenyum

dan mencatat namaku.

Setelah ia pergi,

aku berbisik kepada cermin:

“Maaf, tadi aku terpaksa.”

Cermin menatapku lama,

lalu menjawab pelan:

“Tidak apa-apa.

Aku juga sedang diawasi.”

—DenEff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *