preloader

pagi belum benar-benar pagi

malam belum sepenuhnya pergi

di antara dingin udara

dan angin yang menyentuh wajah perlahan

aku berjalan

seperti orang yang sedang mencari dirinya

di sisa-sisa gelap yang baik hati

di langit

bulan masih tinggal

ia tidak tergesa turun

tidak pula ingin mengalahkan fajar

ia hanya diam

menyala secukupnya

seperti doa orang tua

yang tidak banyak kata

tetapi selalu sampai

orang-orang mungkin menyebutnya

strawberry moon

bulan purnama juni

nama yang manis

untuk cahaya yang sesungguhnya sunyi

tetapi bagiku

ia bukan stroberi

ia adalah pesan

bahwa yang indah

tidak selalu datang dengan sorak

kadang ia hadir

pada pukul empat lima puluh pagi

ketika jalan masih lengang

ketika hati belum memakai topeng

ketika dunia belum sibuk

menjual dirinya sendiri

bulan itu seperti berkata:

jangan takut menjadi lembut

di zaman yang keras

jangan malu menjadi terang

meski sebentar lagi

engkau harus pergi

sebab tidak semua cahaya

ditugaskan untuk tinggal lama

ada yang cukup hadir

agar seseorang ingat

bahwa hidup

masih layak disyukuri

aku terus berjalan

udara dingin menemaniku

angin semilir mengusap pipi

dan bulan

masih menggantung di sana

seperti sahabat lama

yang tahu

aku sedang butuh ditemani

lalu perlahan

fajar mulai membuka pintu

tidak ada pertengkaran

antara malam dan pagi

tidak ada rebutan kuasa

antara gelap dan terang

yang satu pamit

yang lain datang

dengan cara yang begitu santun

andai manusia belajar dari langit

mungkin perpisahan

tidak selalu menjadi luka

mungkin pergantian

tidak selalu menjadi dendam

mungkin pergi

bisa juga berarti

menyelesaikan tugas cahaya

pagi ini

aku tidak membawa pulang bulan

aku hanya membawa pulang rasa syukur

bahwa sebelum hari menjadi ramai

Tuhan sempat menaruh keindahan

di atas kepalaku

dan membiarkan aku melihatnya

sebentar saja

agar sepanjang hari

aku ingat

bahwa hidup

meski dingin

meski sunyi

meski kadang harus berjalan sendiri

tetap punya bulan

yang diam-diam

menunggu kita

di ambang fajar

–deneff, 30062026, 04:50

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *