Ada yang bilang: rumus tak punya rindu,
ia hanya menghitung jarak antara dua titik
tanpa pernah bertanya mengapa titik itu ingin bertemu.
Tapi coba dengar—
setiap variabel adalah kata yang menunggu makna,
setiap tanda sama dengan adalah sajak
yang menolak berpihak, sebelum kedua sisi
belajar saling mendengar.
Mesin tidak menangis, katamu.
Tapi ia mengulang, dan mengulang,
seperti doa yang tak selesai—
seperti seseorang yang terus menghitung mundur
dari luka yang sama, berharap angka nol
akan menjadi pintu, bukan jurang.
Instruksi hanyalah puisi yang belum berani liris.
Ia berkata: lakukan ini, lalu itu—
seperti sajak yang memberi tahu napas
kapan harus berhenti, kapan harus mengalir.
Dan kemungkinan? Ia duduk di antara keduanya,
di sela desimal yang tak pernah genap,
menunggu seseorang cukup sabar
untuk melihat bahwa tak terhingga
bukanlah kegagalan menghitung,
melainkan cara semesta berkata:
aku masih punya banyak yang ingin kukatakan padamu.
Jadi mungkin begini saja:
matematika adalah puisi yang malu mengaku rindu,
dan puisi adalah rumus
yang akhirnya berani salah.
—deneff