preloader

(bagi Daun yang Jatuh, Diri yang Menangis)

I.

Ada yang bilang: rumus tak punya rindu,

ia hanya menghitung jarak antara dua titik

tanpa pernah bertanya mengapa titik itu ingin bertemu.

Tapi coba dengar—setiap variabel adalah kata yang menunggu makna,

setiap tanda sama dengan adalah sajak yang menolak berpihak,

sebelum kedua sisi belajar saling mendengar.

II.

Mesin tidak menangis, katamu.

Tapi ia mengulang, dan mengulang—

gerak-berulang, denyut-tabah, hitung-mundur yang setia,

seperti doa yang tak selesai,

seperti seseorang yang terus menghitung dari luka yang sama,

berharap angka nol akan menjadi pintu, bukan jurang.

III.

Dan daun yang jatuh itu—

bukankah ia juga sebuah persamaan?

Gravitasi di satu sisi, keengganan di sisi lain,

lalu tanda sama dengan yang pelan-pelan ditulis ulang

oleh angin, oleh waktu, oleh sesuatu yang lebih sabar

dari logika mana pun yang kita kenal.

Ia jatuh bukan karena kalah,

melainkan karena rumus alam mengizinkan

satu-satunya jawaban yang jujur: turun, lalu diam.

IV.

Instruksi hanyalah puisi yang belum berani liris.

Ia berkata: lakukan ini, lalu itu—

seperti sajak yang memberi tahu napas

kapan harus berhenti, kapan harus mengalir.

Tapi diri yang menangis tidak butuh instruksi,

ia hanya butuh seseorang yang mau menghitung sampai selesai

airmata yang tak genap-genap itu,

dan tetap menyebutnya suci.

V.

Kemungkinan duduk di antara keduanya,

di sela desimal yang tak pernah genap,

menunggu seseorang cukup sabar

untuk melihat bahwa tak terhingga

bukan kegagalan menghitung,

melainkan cara semesta berkata:

aku masih punya banyak yang ingin kukatakan padamu,

dan daun ini, jatuhnya ini, adalah salah satu caraku bicara.

VI.

Maka biarkan daun yang jatuh itu dihitung, bukan ditangisi—

setiap inci gema-dalamnya, gelap-berbintik dan luruh-perlahan,

sejumlah kecil yang disimpan angin, tak pernah dibulatkan.

Sebab apa itu doa selain rumus yang ditolak hati

untuk diselesaikan terlalu cepat,

dan apa itu diri yang menangis

selain sisa bagi yang menolak habis dibagi bersih?

—www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *