preloader

Sejak telepon dengan Sutrisno, Darma mulai lebih berhati-hati ketika mendengar.

Ia baru sadar, selama ini ia sering mendengar sambil menyiapkan jawaban.

Mendengar sambil menunggu giliran bicara.

Mendengar sambil diam-diam merasa tahu.

Malam itu, Mpu Sabak datang membawa dua cangkir kopi.

“Kopi?” tanya Darma.

“Pinjam dari warung sebelah.”

“Bayar?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Doakan saja pemiliknya panjang umur.”

Darma tertawa.

Mpu Sabak menyerahkan satu cangkir.

“Darma, Tuhan memberi manusia dua telinga dan satu mulut.”

“Supaya lebih banyak mendengar?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Supaya sebelum bicara, manusia ingat bahwa mendengar perlu dua kali lebih sabar.”

Darma menunduk.

Ia menuliskannya pelan-pelan:

“Aku ingin belajar mendengar bukan untuk menjawab, tetapi untuk memahami.”

Mpu Sabak mengangguk.

“Kalau kau berhasil, banyak orang akan merasa pulang hanya karena duduk di dekatmu.”

Darma memandangi kopinya.

Hangat.

Pahit.

Tetapi menenangkan. Seperti kebenaran yang tidak selalu manis, namun diam-diam menyembuhkan.

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *