Beberapa hari kemudian, Darma menghadiri sebuah acara alumni.
Seperti biasa.
Ada sambutan.
Ada foto bersama.
Ada laporan kegiatan.
Ada tepuk tangan.
Ada nama-nama yang disebut.
Ada penghargaan yang diberikan.
Dan seperti biasa pula, banyak orang sibuk mengabadikan momen.
Telepon diangkat.
Kamera menyala.
Senyum diperbaiki.
Posisi berdiri diatur.
Darma ikut berfoto.
Tetapi kali ini ia memperhatikan sesuatu yang berbeda.
Di sudut ruangan, seorang ibu sibuk mengisi ulang gelas air minum.
Di belakang gedung, seorang petugas kebersihan menyapu daun yang jatuh.
Di dekat pintu, seorang panitia muda memastikan kursi-kursi tetap rapi.
Tidak ada yang memotret mereka.
Tidak ada yang memanggil mereka ke panggung.
Tidak ada yang memberi plakat.
Tetapi tanpa mereka, acara itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Malamnya, setelah pukul delapan.
Darma duduk sendiri di beranda.
Tidak ada suara tongkat.
Namun kadang-kadang, justru dalam ketiadaan itu, ia merasa Mpu Sabak paling dekat.
Ia membuka buku catatan.
Lalu menulis:
“Sejarah sering mencatat nama orang yang berdiri di depan.
Kehidupan justru ditopang oleh orang-orang yang setia bekerja di belakang.”
Ia berhenti.
Lalu melanjutkan:
“Dan Tuhan tampaknya tidak terlalu sibuk membedakan keduanya.”
Angin malam bergerak pelan.
Darma teringat istrinya.
Selama puluhan tahun.
Tidak pernah berdiri di podium.
Tidak pernah menerima piagam.
Tidak pernah diberi sambutan.
Tetapi selalu hadir.
Setia.
Diam-diam menjadi salah satu alasan mengapa ia mampu berjalan sejauh ini.
Darma menutup buku catatannya.
Lalu berbisik pelan:
“Terima kasih untuk orang-orang yang tidak dicatat sejarah.”
Sesaat kemudian ia tersenyum.
Karena ia yakin, justru nama-nama itulah yang paling sering diingat oleh surga.
Lampu teras menyala.
Rumah tenang.
Dan malam itu, seorang lelaki berusia enam puluh empat tahun mulai mengerti bahwa makna hidup tidak selalu terletak pada seberapa banyak orang mengenal namanya.
Kadang terletak pada seberapa banyak orang merasa ditolong oleh kehadirannya.
Meskipun mereka tidak pernah mengingat siapa yang melakukannya.