preloader

Sebelum hari ini,
sepanjang jalan yang kulalui mendadak lebar sekali
tepiannya membentuk garis lurus tanpa putus sama sekali.
Matahari mengirim roh-nya tanpa ada penghalang lagi
menyinari bumi yang tak biasa seperti begini
tak biasa, kataku; karena bumi tidak banyak di pijak lagi
“Kenapa jalanku hari ini sangat lengang?”, begitu pertanyaanku menggerutu dalam hati

Hari ini…
Aku dibuat kaget dan tercengang lagi;
sebab jalan yang aku lalui mendadak jadi sempit lagi
aku tak mampu menemukan garis tepinya yang lurus lagi
dan, roh matahari tak bisa lagi menyelimuti bumi dengan hangatnya lagi
keriuhan suara mengiringi lalu lalang bergema lagi

Kucari jawab, “mengapa lorong jalanku cepat berubah?”
Dan, kutemukan sepenggal kalimat jawab diujung jalan sana
Kali ini bukan sekedar terbelalak kaget dibuatnya,
tapi nyaris membuat jantungku copot, sebab katanya;
“demi adipura, you know?!!!”

Astaga?

Dulu sekali…
Nenekku pernah berpesan begini:
“Cucuku… kelak, jika kamu mencari istri, janganlah mencarinya di malam hari…
temuilah dia ketika matahari mulai menampakkan diri!”

“Artinya Nek?”, tanyaku
“Kalau kau mencarinya di malam hari, bukankah kau akan kesulitan untuk melihat kecantikannya, cucuku?”
“Sekiranya kau lihat dia cantik, itu karena bedak dan gincunya, bukan?”
“Bila kau temui menjelang fajar, kau akan mendapatkan kecantikannya yang hakiki!”

Kala itu,
aku termangu karena tak paham.

Kini,
aku baru mengerti,
ternyata kita sering tertipu, bahkan menipu diri sendiri demi “kebanggaan”

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *