sejak engkau bertemu pasti ada yang tersentak dalam dadamu lalu kau pahat langitmu dengan angan-angan kau ukir malam-malammu dengan bintang-bintang sebab, engkau takut akan kehilangan keindahannya!
janganlah engkau simpan perasaan yang sarat tumpahkanlah hanya pada dia; yang telah engkau ikat dengan tali surga pandanglah dia, jangan kau lari dari kenyataan! usahlah engkau takut dengan bayang-bayang! bukankah senandung lagu selalu bergelombang? sebab, itulah keindahannya!
jangan kau lepas cinta yang sudah kau genggam; jujurlah dan selalu terbuka, tumpahkanlah cintamu sepanjang perjalanan meski kadang tak terduga yang akan kau terima sebab itulah senyatanya cinta; memberi, bukan meminta!
DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang.
Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya,
DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia.
Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati.
Hidup untuk menjadi berkat.