preloader

Kata guruku;

Tiga ratus lima puluh tahun

terlalu lama untuk sebuah mimpi buruk.

Bangsamu menginjak-injak, mencekik, menghisap bumi kami,

hingga sisa ampas pun kering kerontang.


Ketika kau bersama Pangeran ke Yogyakarta,

setelah kami menghirup udara merdeka;

senyum lebar menyambut kedatanganmu.

Tanpa dendam.


(effendi bp, 5 April 1989)

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *