Banyak kawan baru saling silang menyapa banyak cerita baru teruntai mengisi lorong-lorong panjang urat nadi sang maya dan, kita pun bertemu di simpul Jakarta
Laiknya peserta pesta; kita menyeruak saling mematutkan diri memanggungkan kisah tentang warna-warni gincu pada bingkai layar tanpa kelambu
Pesta sudah berakhir menyisakan kebanggaan bagi tiga saudara dan menyisakan kenangan indah bagi kita semua.
DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang.
Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya,
DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia.
Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati.
Hidup untuk menjadi berkat.