ada saatnya aku untuk berpikir… menghitung setiap tarikan udara yang kuhirup menghitung setiap jejak menghitung langkah yang bakal kuayun menghitung …
ada saatnya aku harus diam mengendapkan segala sesuatu; tentang kenangan tentang saat dimana bumiku sedang mengikat kakiku tentang misteri masa yang belum kuterjang maka aku harus diam mencari keheningan
ada saatnya aku mesti bertindak! karena aku tak hendak bernostalgi dengan kenangan, sebab ia akan mengikatku dalam kenisbian semua labirin memiliki misterinya sendiri, memilki keindahnya sendiri maka aku harus bertindak
hai jiwaku… janganlah meletakkan ragu dipelupuk mata biarkan timbangan pikiran menjadi lentera sebab perjalanan harus ditempuh
DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang.
Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya,
DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia.
Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati.
Hidup untuk menjadi berkat.