
Di lintasan bernama Circuito de Jerez, puluhan mesin kecil berteriak nyaring.
Mereka berputar, saling mengejar, saling menyalip—seolah waktu tak memberi ruang untuk ragu.
Di tengah hiruk itu, ada satu nama yang perlahan mulai diperhatikan: Veda Ega Pratama – Pembalap dari Gunung Kidul Jogjakarta.
Ia tidak start dari depan.
Tidak pula difavoritkan menang.
Ia memulai dari posisi ke-17—sebuah tempat yang, bagi banyak orang, sudah cukup untuk sekadar “ikut meramaikan”.
Tapi balapan, seperti hidup, jarang dimenangkan oleh mereka yang hanya menerima posisi awal.
Lap demi lap, ia bergerak naik.
Bukan dengan cara yang dramatis, tapi dengan keberanian yang tenang.
Masuk celah sempit.
Menahan tekanan.
Dan sesekali, mengambil risiko yang tidak semua orang berani ambil.
Sampai akhirnya…
ia berada di barisan depan.
Bahkan sempat menyentuh lima besar.
Namun di lap-lap terakhir, sesuatu yang sering terjadi dalam hidup—juga terjadi di lintasan:
Ia tidak menang.
Ia tidak naik podium.
Ia finis di posisi keenam.
Satu angka yang, bagi sebagian orang, terasa “hampir… tapi belum cukup”.
Lalu saya bertanya imajiner kepada Mpu Sabak.
“Apakah posisi keenam itu kegagalan?”
saya bertanya.
Mpu Sabak tersenyum tipis.
“Tidak semua kemenangan datang dalam bentuk Piala,” katanya.
“Kadang kemenangan datang dalam bentuk perubahan posisi—dari belakang… menjadi diperhitungkan.”
Posisi keenam itu menyimpan cerita yang lebih dalam:
Bahwa ia sudah bisa bertarung di depan.
Bahwa ia tidak lagi sekadar Peserta.
Bahwa ia sudah masuk dalam permainan para pemenang.
Dan itu, seringkali, adalah fase paling menentukan dalam perjalanan siapa pun.
Kita sering terlalu cepat menilai hasil akhir.
Padahal hidup tidak selalu tentang siapa yang berdiri di Podium,
tapi tentang siapa yang berhasil naik dari tempat yang tidak diunggulkan.
Karena pada akhirnya,
yang membedakan orang biasa dan Pemenang bukanlah posisi awalnya…
melainkan keberaniannya untuk terus bergerak
saat banyak orang memilih diam.
Sore ini, di Jerez,
Veda Ega Pratama memang tidak membawa pulang trofi.
Tapi ia membawa sesuatu yang jauh lebih penting:
keyakinan bahwa ia pantas berada di depan.
Dan bagi mereka yang mengerti proses—
itu adalah tanda paling awal dari kemenangan yang sesungguhnya.
Hari ini, mungkin Anda juga belum di “podium”.
Belum jadi yang terbaik.
Belum jadi yang pertama.
Tapi coba lihat lagi…
Apakah Anda sudah bergerak maju dari posisi Anda yang dulu?
Kalau iya—
jangan remehkan itu.
Karena bisa jadi,
Anda sedang berada di fase yang sama:
belajar menang… dari posisi keenam.