
Pagi ini masih terlalu muda ketika saya mulai berjalan tergesa di lorong bandara.
Suara roda koper beradu dengan lantai.
Pengumuman keberangkatan terdengar berulang-ulang.
Orang-orang menatap layar jadwal penerbangan seperti sedang mengejar sesuatu yang penting sekali.
Di tangan mereka ada boarding pass.
Di kepala mereka ada target.
Di wajah mereka ada ketenangan yang dipaksakan.
Bandara mungkin adalah tempat paling modern untuk menyembunyikan perasaan.
Di sini orang belajar terlihat baik-baik saja.
Ada yang baru ditinggal orang yang dicintainya, tetapi tetap duduk rapi sambil membuka laptop.
Ada yang sedang takut kehilangan pekerjaan, tetapi masih sempat mengunggah foto kopi dan caption: another trip.
Ada yang berangkat demi masa depan keluarganya, sambil diam-diam khawatir apakah dirinya sendiri masih punya masa depan yang sanggup ia jalani.
Manusia modern makin pandai bepergian.
Tetapi tidak selalu pandai pulang kepada dirinya sendiri.
Di bandara, koper ditimbang dengan sangat teliti.
Tujuh kilo. Dua puluh kilo. Tiga puluh kilo.
Tetapi tidak ada alat untuk menimbang isi kepala seseorang.
Tidak ada petugas yang bertanya:
“Apakah hati Anda terlalu penuh untuk dibawa terbang hari ini?”
Kita hidup di zaman ketika ekspresi semakin rapi, tetapi isi hati semakin berantakan.
Orang mudah membagikan lokasi, tetapi sulit membagikan kegelisahan.
Mudah berkata “aman”, padahal pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Mungkin karena dunia sekarang terlalu sibuk mengagumi orang yang terlihat kuat.
Padahal banyak orang sebenarnya hanya sedang lelah.
Bandara memperlihatkan itu dengan sangat jelas.
Orang-orang berjalan cepat seolah hidup tidak boleh terlambat.
Mereka takut tertinggal pesawat.
Takut tertinggal peluang.
Takut tertinggal zaman.
Tetapi diam-diam banyak yang sudah tertinggal dirinya sendiri sejak lama.
Ada yang berhasil membeli tiket ke banyak kota,
tetapi tidak pernah punya waktu duduk tenang dengan isi pikirannya.
Ada yang hafal jadwal penerbangan,
tetapi lupa kapan terakhir kali benar-benar merasa bahagia.
Dan mungkin itu sebabnya ruang tunggu sering terasa sunyi, meski penuh manusia.
Karena setiap orang sedang sibuk menenangkan sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa diumumkan lewat pengeras suara.
Barangkali hidup modern memang membuat kita semakin mudah berpindah tempat.
Namun tidak otomatis membuat hati kita ikut sampai.
Kadang tubuh sudah berada di kota tujuan,
tetapi pikiran masih tertinggal di tempat lain.
Dan pagi ini saya kembali sadar:
manusia ternyata bukan hanya makhluk yang suka bepergian.
Manusia juga makhluk yang sangat pandai menyembunyikan perasaan.
www.deneff.my.id