
Ada zaman ketika orang berbeda pendapat masih bisa duduk satu meja.
Sekarang, kadang baru membaca judul saja, orang sudah siap bertengkar.
Media sosial membuat semua hal bergerak cepat:
cepat tahu,
cepat bereaksi,
cepat tersinggung,
dan cepat menghakimi.
Kita hidup di zaman ketika jempol lebih cepat daripada hati.
Sedikit-sedikit tersulut.
Sedikit-sedikit membenci.
Sedikit-sedikit merasa paling benar.
Padahal tidak semua hal harus dibalas.
Tidak semua perbedaan harus dimenangkan.
Ada orang yang sebenarnya sedang lelah, tetapi kemarahannya terlihat seperti kesombongan.
Ada orang yang sebenarnya sedang terluka, tetapi kata-katanya terdengar kasar.
Ada orang yang diam bukan karena kalah, tetapi karena tidak ingin menambah gaduh.
Sayangnya, dunia hari ini sering lebih menghargai suara keras daripada pikiran yang jernih.
Kita lupa:
kemampuan mendengar adalah tanda kedewasaan.
Dan kemampuan menenangkan diri adalah bentuk kecerdasan yang jarang diajarkan.
Mpu Sabak pernah membayangkan,
mungkin dunia ini tidak kekurangan orang pintar.
Yang kurang adalah orang yang mampu berhenti sejenak sebelum bicara.
Orang yang masih mau bertanya:
“Apakah kata-kataku akan menyelesaikan sesuatu, atau justru melukai?”
Karena kadang,
yang dibutuhkan dunia bukan tambahan kemarahan,
melainkan tambahan keteduhan.
Dan mungkin,
di zaman yang cepat marah ini,
orang yang tetap lembut tanpa kehilangan ketegasan
adalah bentuk keberanian yang mulai langka.
www.deneff.my.id