preloader

Ada satu masa ketika kebahagiaan manusia sangat sederhana.

Pulang sekolah, buka kulkas, menemukan es teh.
Atau diberi uang lima ribu lalu merasa seperti orang terkaya sedunia.

Lalu kita tumbuh.

Sekarang uangnya lebih banyak.
Tapi entah kenapa, rasa bebasnya tidak selalu ikut bertambah.

Dulu ingin cepat dewasa supaya boleh mengambil keputusan sendiri.

Sekarang setelah dewasa, ternyata sebagian keputusan dimulai dengan kalimat:

“Sebentar saya hitung dulu…”

Waktu kecil kita berpikir orang dewasa itu hebat:
mereka tahu arah jalan,
tahu harus bagaimana,
tahu memilih.

Ternyata setelah masuk usia dewasa…

Google Maps tetap dibuka.
Tutorial YouTube tetap dicari.
Dan kadang pilihan makan siang saja masih berkata:

“Terserah.”

Dulu kalau sedih:
main sepeda.

Sekarang kalau sedih:
buka marketplace.
Masukkan barang ke keranjang.
Lalu ditutup lagi karena sadar tanggal tua.

😆

Dulu tidur siang adalah hukuman.

Sekarang tidur siang adalah hadiah dari semesta.

Dulu takut dipanggil guru.

Sekarang deg-degan kalau ada telepon dari nomor tidak dikenal.

😳

Dulu menunggu ulang tahun.

Sekarang menunggu:
tanggal gajian.

Dan ada satu rahasia kecil yang mungkin tidak pernah benar-benar kita akui:

Sebagian dari kita masih sama seperti dulu.

Masih senang dipuji.
Masih ingin didengar.
Masih ingin ditemani makan.
Masih senang kalau dibelikan makanan favorit.
Masih diam-diam berharap hidup tidak terlalu berat.

Hanya saja sekarang kita melakukannya sambil membayar tagihan.

Mungkin menjadi dewasa bukan berarti kehilangan anak kecil di dalam diri.

Mungkin menjadi dewasa adalah belajar mengajaknya berjalan bersama.

Sesekali membeli jajanan yang dulu tidak kebeli.
Sesekali tertawa tanpa alasan penting.
Sesekali pulang lebih cepat.

Karena ternyata…

orang dewasa itu sering kali cuma anak kecil yang sudah bisa transfer bank.

—Eff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *