preloader

Dulu orang diajarkan mendengar sampai selesai.
Sekarang, orang baru membaca judulnya saja sudah merasa paling mengerti isi cerita.

Kita hidup di zaman yang aneh.
Semakin banyak informasi, tetapi semakin sedikit kesabaran untuk memahami.

Sebuah video dipotong tiga puluh detik.
Sebuah kalimat dicabut dari konteksnya.
Sebuah kesalahan kecil dibesarkan seperti dosa seumur hidup.
Lalu ribuan orang datang membawa palu pendapat masing-masing.

Semua ingin menjadi hakim.
Sedikit yang mau menjadi pendengar.

Padahal hidup manusia tidak sesederhana kolom komentar.

Ada orang yang tampak kasar karena terlalu lama menahan luka.
Ada orang yang terlihat dingin karena berkali-kali dikecewakan.
Ada orang yang salah bicara bukan karena jahat, tetapi karena lelah.
Dan ada orang yang diam bukan karena kalah, melainkan karena tahu bahwa tidak semua keributan perlu dibalas.

Namun zaman ini menyukai kecepatan.
Cepat menilai.
Cepat marah.
Cepat membenci.
Cepat menyimpulkan.

Ironisnya, orang sering meminta dirinya dimengerti, tetapi gagal memberi pengertian kepada orang lain.

Kita lupa bahwa setiap manusia membawa cerita yang tidak selalu terlihat dari wajahnya.

Bahkan pengadilan saja masih memberi ruang pembelaan.
Tetapi media sosial kadang menghukum orang sebelum fakta selesai bicara.

Mungkin karena menghakimi memang terasa lebih mudah daripada memahami.

Memahami membutuhkan waktu.
Menghakimi hanya butuh emosi sesaat.

Padahal belum tentu yang ramai itu benar.
Dan belum tentu yang diam itu salah.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh pendapat, mungkin kita perlu belajar satu hal sederhana lagi: menahan diri.

Tidak semua hal harus segera dikomentari.
Tidak semua orang harus segera disimpulkan.

Sebab kadang, yang paling berisik bukanlah kebenaran, melainkan keyakinan yang terlalu cepat.

—eff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *