
Dulu, menjelang magrib, kursi-kursi mulai dikeluarkan ke depan rumah.
Ada yang duduk sambil mengipasi diri dengan koran bekas.
Ada yang membawa teh hangat.
Ada yang sekadar memandangi jalan kampung tanpa tujuan yang penting.
Anak-anak masih berlarian.
Radio masih menyala pelan.
Sesekali terdengar suara tukang bakso lewat, disusul teriakan ibu-ibu memanggil anaknya mandi.
Orang-orang tidak punya banyak hiburan.
Tetapi entah kenapa, mereka lebih banyak berbicara.
Mereka tahu siapa yang sedang sakit.
Siapa yang anaknya baru diterima kerja.
Siapa yang diam-diam butuh bantuan.
Percakapan waktu itu sederhana.
Kadang bahkan tidak penting-penting amat.
Tentang cuaca. Tentang harga cabai. Tentang sepeda motor yang mogok di tikungan.
Tetapi dari obrolan kecil itulah, rasa menjadi manusia pelan-pelan dipelihara.
Hari ini, teras-teras mulai sepi.
Lampu rumah tetap menyala, tetapi wajah-wajah lebih sibuk menunduk ke layar.
Jempol bergerak lebih aktif daripada mata yang saling menatap.
Kita tetap “bertemu” setiap hari.
Tetapi lebih sering lewat story daripada benar-benar menyapa.
Kita tahu kabar artis yang tinggal ribuan kilometer jauhnya,
tetapi tidak tahu rumah sebelah sedang berduka.
Timeline membuat kita terhubung cepat.
Tetapi tidak selalu membuat kita dekat.
Kadang kita tertawa bersama ratusan orang di media sosial,
namun tetap merasa sepi setelah layar dimatikan.
Mungkin yang hilang bukan sekadar budaya duduk di teras.
Melainkan ruang kecil tempat manusia merasa didengar tanpa harus tampil sempurna.
Karena di teras, orang tidak perlu filter.
Tidak perlu pencahayaan bagus.
Tidak perlu caption bijak.
Cukup hadir.
Dan mungkin, di zaman yang makin bising ini,
yang paling dirindukan manusia sebenarnya sederhana:
bukan sinyal yang kuat,
melainkan percakapan yang hangat.
Bagaimana yang Anda rasakan?
Tulis di kolom komentar, tanpa pakai filter ya?

www.deneff.my.id