Setiap zaman
selalu melahirkan anak muda
yang dadanya terlalu sempit
untuk menyimpan luka rakyat
sendirian.
Mereka berdiri
bukan karena ingin dikenang,
tetapi karena terlalu banyak orang
sudah lama bicara dalam diam.
Ada yang datang
dengan bendera reformasi,
ada yang datang
dengan puisi dan tubuh yang hilang,
ada pula yang datang hari ini
dengan mikrofon kecil
namun suara yang membuat kursi kekuasaan
sedikit bergeser.
Mereka bukan malaikat.
Mereka bisa salah,
bisa keras,
bisa terlalu muda
untuk memahami rumitnya negara.
Tetapi sering kali
justru dari mulut yang belum pandai berkompromi
kita mendengar kejujuran
yang sudah lama pensiun
dari ruang rapat.
Mpu Sabak berkata:
“Den,
jangan buru-buru menyebut anak muda itu gaduh.
Kadang yang gaduh bukan suaranya,
melainkan hati kita
yang sudah terlalu nyaman
dengan ketidakadilan.”
Maka biarkan mereka bicara.
Sebab bangsa
yang mematikan suara anak mudanya
sedang menutup jendela
ketika rumah mulai dipenuhi asap.
Dan bila suatu hari
mereka terlalu lantang,
jangan langsung mematahkan lidahnya.
Dekatilah.
Dengarkanlah.
Tanyakanlah:
luka siapa
yang sedang mereka pinjam
untuk diteriakkan?
Karena setiap zaman
melahirkan suaranya sendiri.
Tetapi tujuannya
tetap sama:
agar manusia kecil
tidak terus menjadi catatan kaki
dalam pidato orang besar.
–eff, 16062026