
Ada kalanya negara tidak diuji di ruang rapat, bukan pula di podium pidato, melainkan di tempat yang tampaknya sederhana:
“di depan pompa BBM”.
Di sana antrean mengular. Sopir truk menunggu dengan mesin dimatikan. Pengendara motor menatap jam. Petugas SPBU bekerja dalam tekanan. Semua berdiri di hadapan satu kebutuhan dasar: bahan bakar agar hidup tetap bergerak.
Antrian BBM bukan sekadar soal solar atau bensin yang tersendat. Ia adalah tanda bahwa ada sesuatu dalam tata kelola yang sedang tidak lancar. Bisa soal distribusi, pasokan, sistem pembatasan, komunikasi publik, atau kebijakan yang baik di atas kertas tetapi terasa kaku di lapangan.
Bagi rakyat kecil, BBM bukan angka dalam laporan.
BBM adalah waktu kerja.
BBM adalah setoran.
BBM adalah ongkos kirim.
BBM adalah dapur rumah.
Ketika solar sulit didapat, truk berhenti. Ketika truk berhenti, barang terlambat. Ketika barang terlambat, harga bisa ikut bergerak. Dari satu antrean di SPBU, kecemasan menjalar sampai ke pasar, warung, dan meja makan keluarga.
Maka kalimat “stok aman” tidak cukup. Bagi rakyat, aman bukanlah pernyataan. Aman adalah ketika mereka tidak perlu mengantre berjam-jam. Aman adalah ketika kebutuhan pokok tersedia tanpa kegelisahan. Aman adalah ketika negara hadir sebelum keluhan menjadi kemarahan.
Di depan pompa, negara sedang diuji: apakah ia hanya pandai mengatur, atau sungguh mampu mendengar?
Sebab pelayanan publik tidak diuji saat keadaan lancar. Ia diuji ketika antrean panjang, emosi naik, informasi simpang siur, dan kepercayaan mulai menipis.
Teknologi boleh dipakai. Barcode boleh diberlakukan. Pengawasan subsidi harus dijalankan. Tetapi jangan sampai sistem yang dibuat untuk menertibkan justru menyusahkan mereka yang paling membutuhkan.
Di ujung kebijakan selalu ada manusia: sopir, nelayan, pekerja, pedagang kecil, dan keluarga yang menunggu nafkah pulang ke rumah.
Antrean BBM adalah cermin kecil dari hubungan negara dan rakyatnya. Dari sana kita bisa melihat apakah negara cukup sigap, cukup adil, dan cukup manusiawi.
Karena antrean selalu jujur.
Ia tidak berpidato.
Ia hanya menunjukkan bahwa ada yang harus segera diperbaiki.
Dan di depan pompa itu, negara sedang ditanya dengan sangat sederhana:
“Apakah rakyat masih bisa menjalani hari tanpa dipersulit oleh kebutuhan dasarnya sendiri?”