Pintu yang Tidak Bisa Dijaga
Pukul sepuluh lewat tiga puluh lima menit.
Suara pagar akhirnya terdengar.
Krek.
Lalu suara sepeda motor berhenti.
Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.
Anak laki-laki Darma masuk sambil melepas helm.
“Belum tidur, Pi?”
Darma tersenyum.
“Belum.”
“Tumben.”
“Tumben apanya?”
“Biasanya sudah di ruang kerja.”
Darma tertawa kecil.
“Ini juga baru dari sana.”
Anaknya mengambil segelas air.
Minum.
Lalu duduk sebentar.
Tidak ada interogasi.
Tidak ada pertanyaan beruntun.
Tidak ada ceramah.
Hanya dua orang lelaki yang duduk dalam keheningan yang cukup akrab.
“Kerjaan banyak?” tanya Darma.
“Lumayan.”
“Capek?”
“Lumayan.”
Darma mengangguk.
Ia tahu jawaban laki-laki sering sesingkat itu.
Tetapi di balik kata lumayan biasanya ada cerita yang lebih panjang.
Tak lama kemudian anaknya berdiri.
“Mau tidur dulu, Pi.”
“Ya.”
Anaknya melangkah menuju kamar.
Lalu berhenti.
“Pi.”
“Ya?”
“Makasih ya.”
Darma terkejut.
“Makasih untuk apa?”
“Sudah nggak banyak nanya.”
Lalu anaknya tertawa dan masuk kamar.
Meninggalkan Darma yang masih duduk di ruang tamu.
Malam itu, setelah rumah kembali tenang.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Seperti biasa.
Duduk.
Tersenyum.
Tidak terburu-buru bicara.
“Mpu,” kata Darma.
“Hm?”
“Ternyata menahan pertanyaan itu sulit.”
“Pertanyaan apa?”
“Pertanyaan seorang ayah.”
Mpu Sabak tertawa kecil.
“Itu memang salah satu pertanyaan yang paling sulit ditahan.”
Darma menatap lantai.
“Aku ingin tahu semuanya.”
“Tentu.”
“Aku ingin memastikan semuanya baik-baik saja.”
“Tentu.”
“Aku ingin melindunginya.”
“Tentu.”
Mpu Sabak mengangguk pelan.
Lalu berkata:
“Masalahnya, tidak ada ayah yang bisa menjaga semua pintu.”
Darma terdiam.
Mpu Sabak menunjuk ke arah kamar anaknya.
“Waktu kecil, kau bisa memegang tangannya.”
“Waktu remaja, kau bisa mengawasi langkahnya.”
“Waktu dewasa, yang tersisa hanyalah doa.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Darma teringat anak perempuannya yang tinggal di luar negeri.
Jauh.
Sangat jauh.
Ia tidak tahu cuaca hari itu.
Ia tidak tahu apa yang dimakannya siang tadi.
Ia tidak tahu apakah ia sedang bahagia atau sedih.
Tetapi setiap malam, namanya selalu masuk ke dalam doa.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Jangan sedih karena tanganmu tidak lagi menjangkau mereka.”
“Bersyukurlah karena kasihmu masih bisa sampai melalui doa.”
Darma memejamkan mata.
Kalimat itu terasa seperti air yang jatuh perlahan ke tanah yang lama kering.
Malam itu ia membuka buku catatannya dan menulis:
“Ada usia ketika orang tua mendidik dengan kata-kata.
Ada usia ketika orang tua mendidik dengan teladan.
Dan ada usia ketika orang tua hanya bisa mendidik melalui doa.”
Ia menatap tulisan itu lama sekali.
Lalu menambahkan satu kalimat:
“Barangkali doa adalah bentuk cinta yang paling jauh jangkauannya.”
Di luar, malam terus berjalan.
Di dalam rumah, dua anaknya berada di tempat yang berbeda.
Satu tidur di kamar sebelah.
Satu berada di negeri lain.
Dan seorang ayah berusia enam puluh empat tahun sedang belajar menerima bahwa cinta tidak selalu berarti menjaga.
Kadang berarti mempercayakan.
BERSAMBUNG…