Malam itu Darma tidak langsung tidur.
Kalimat yang baru saja ditulisnya masih terbuka di atas meja.
Aku belum selesai memaafkanmu. Tetapi malam ini aku mulai ingin bebas.
Ia membaca ulang berkali-kali.
Lalu menyadari sesuatu.
Selama ini ia selalu mengira memaafkan adalah hadiah untuk orang lain.
Malam itu ia mulai mengerti:
memaafkan sering kali adalah hadiah untuk diri sendiri.
Keesokan harinya, Darma pergi ke kantor seperti biasa.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Nama itu masih ada.
Lukanya belum hilang.
Kenangannya masih lengkap.
Namun beban yang selama ini menempel padanya terasa sedikit lebih ringan.
Tidak banyak.
Hanya sedikit.
Seperti seseorang yang berjalan jauh lalu memindahkan tas dari bahu kiri ke bahu kanan.
Perjalanan belum selesai.
Tetapi langkah menjadi lebih nyaman.
Siang hari, Darma menerima pesan dari seorang teman lama.
Pesan sederhana.
Tidak ada hubungannya dengan luka dua puluh tahun lalu.
Tidak ada hubungannya dengan Mpu Sabak.
Hanya sebuah foto reuni kecil.
Beberapa sahabat tua duduk bersama.
Rambut memutih.
Wajah menua.
Tawa masih sama.
Darma tersenyum.
Tiba-tiba ia sadar:
hidup sudah memberinya begitu banyak hal baik.
Mengapa ia membiarkan satu luka mengambil ruang yang terlalu besar?
Malamnya, setelah pukul delapan.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Darma langsung berkata:
“Mpu, apakah semua luka bisa sembuh?”
Mpu Sabak duduk perlahan.
“Tidak.”
Darma terdiam.
Jawaban itu tidak ia duga.
“Tidak semua luka sembuh,” lanjut Mpu Sabak.
“Lalu?”
“Sebagian menjadi bekas.”
“Bedanya?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Luka masih sakit ketika disentuh.”
“Bekas luka mengingatkan bahwa kau pernah terluka, tetapi tidak lagi menguasai hidupmu.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Mpu,” kata Darma pelan.
“Ya?”
“Aku ingin luka itu menjadi bekas.”
Mpu Sabak mengangguk.
“Itu keinginan yang baik.”
“Bagaimana caranya?”
Mpu Sabak memandang ke luar jendela.
Ke arah pohon mangga yang diam diterpa angin malam.
Lalu berkata:
“Berhentilah menyiramnya.”
“Apa?”
“Luka.”
“Maksud Mpu?”
“Setiap kali kau mengulang kemarahan yang sama, kau menyiramnya.”
“Setiap kali kau memberi makan dendam, kau menyiramnya.”
“Setiap kali kau menikmati peran sebagai korban, kau menyiramnya.”
Darma menunduk.
Kalimat itu terasa tajam.
Tetapi benar.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Ada orang yang terluka sekali.
Tetapi hidup menderita tiga puluh tahun.
Bukan karena lukanya terlalu besar.
Melainkan karena ia tidak pernah berhenti menyiramnya.”
Darma memejamkan mata.
Malam itu ia melihat sesuatu yang selama ini tidak ingin ia lihat:
bahwa sebagian penderitaannya bukan berasal dari masa lalu.
Melainkan dari kebiasaannya menghidupkan kembali masa lalu.
Ia membuka buku catatan.
Lalu menulis:
“Aku tidak bisa mengubah apa yang terjadi.
Tetapi aku bisa memutuskan apakah akan terus menyiraminya.”
Mpu Sabak tersenyum.
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk bersama kesunyian.
Sebelum pergi, Mpu Sabak berdiri dan berkata:
“Darma, kebebasan tidak datang ketika masa lalu menghilang.”
“Kebebasan datang ketika masa lalu tidak lagi memegang kemudi hidupmu.”
Tok.
Tok.
Tok.
Suara tongkat itu menjauh.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Darma merasa ada jendela kecil yang terbuka di dalam dirinya.
Belum lebar.
Belum sempurna. Tetapi cukup untuk membiarkan udara segar masuk.
BERSAMBUNG…