Malam itu Darma tidak langsung menjawab.
Ia menutup buku catatan perlahan.
Seolah-olah dengan menutupnya, nama itu ikut tertutup.
Tetapi tidak.
Ada nama-nama yang tetap tinggal meskipun bukunya sudah disimpan.
Mpu Sabak mengambil gelas air putih di meja.
Diminumnya seteguk.
Lalu ia bertanya pelan,
“Sudah berapa lama?”
Darma memahami maksud pertanyaan itu.
“Hampir dua puluh tahun.”
“Lama juga.”
“Ya.”
“Masih marah?”
Darma tidak segera menjawab.
Di luar, angin malam menggoyang daun mangga di halaman.
Suara gesekannya terdengar seperti bisikan orang-orang yang sudah jauh pergi.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau masih sering kauingat, berarti kau tahu.”
Darma tersenyum pahit.
“Aku tidak marah setiap hari.”
“Lalu?”
“Kadang hanya muncul.”
“Seperti apa?”
“Seperti duri yang sudah lama tertanam. Tidak selalu sakit. Tapi sesekali terkena dan mengingatkan bahwa ia masih ada.”
Mpu Sabak mengangguk.
“Bagus.”
“Bagus lagi?”
“Karena kau mulai jujur.”
Darma tertawa kecil.
“Kalau jujur begini rasanya tidak enak, Mpu.”
“Memang.”
“Lalu apa gunanya?”
“Karena kebebasan selalu dimulai dari kejujuran.”
Mereka terdiam beberapa saat.
Lalu Mpu Sabak bertanya,
“Orang itu tahu kau masih menyimpan luka?”
“Tidak.”
“Pernah kauceritakan?”
“Tidak.”
“Pernah kau tegur?”
“Tidak.”
“Pernah kau beri kesempatan menjelaskan?”
“Tidak.”
Mpu Sabak menghela napas panjang.
“Kasihan sekali.”
Darma mengangkat kepala.
“Kasihan dia?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Kasihan kau.”
Ruangan kembali hening.
“Kenapa kasihan aku?”
“Karena selama dua puluh tahun, dia mungkin hanya lewat satu kali dalam hidupmu.”
“Lalu?”
“Tapi kau membiarkannya tinggal gratis di kepalamu.”
Darma tertawa.
Untuk pertama kalinya malam itu.
Tawa yang pendek.
Tetapi jujur.
Mpu Sabak ikut tersenyum.
“Manusia lucu, Darma.”
“Apa lagi sekarang?”
“Mereka bisa sangat pelit soal uang.”
“Lalu?”
“Tetapi sangat murah hati menyediakan kamar di hatinya untuk kemarahan.”
Darma menggeleng pelan.
Kalimat itu mengenai sasaran.
Karena selama ini ia memang tidak pernah mengusir kenangan itu.
Ia hanya membiarkannya tinggal diam-diam.
Tidak diberi makan.
Tetapi juga tidak disuruh pergi.
Mpu Sabak berdiri.
Lalu berjalan ke arah rak buku.
Di sana berdiri puluhan buku yang telah menemani hidup Darma.
“Lihat rak ini.”
“Ada apa?”
“Kalau setiap buku yang selesai kau baca tetap kauletakkan di atas meja, apa yang terjadi?”
“Mejanya penuh.”
“Nah.”
Mpu Sabak menoleh.
“Hatimu juga begitu.”
“Jadi aku harus melupakan semuanya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Kembalikan setiap kenangan ke tempatnya.”
“Bagaimana caranya?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Dengan mengubah luka menjadi pelajaran, dan kemarahan menjadi pengertian.”
Sebelum pergi, ia berhenti di ambang pintu.
Lalu berkata,
“Memaafkan bukan berarti berkata bahwa yang terjadi itu benar.”
“Memaafkan berarti memutuskan bahwa hidupmu terlalu berharga untuk terus menjadi tawanan dari apa yang sudah berlalu.”
Tok.
Tok.
Tok.
Suara tongkatnya menjauh.
Darma tetap duduk.
Lama.
Sangat lama.
Sampai akhirnya ia membuka kembali buku catatannya.
Di bawah nama yang paling sulit itu, ia menulis satu kalimat: “Aku belum selesai memaafkanmu. Tetapi malam ini aku mulai ingin bebas.”
BERSAMBUNG…