Keesokan malam, Darma duduk lebih tenang.
Luka itu belum selesai.
Tetapi ia tidak lagi duduk di kursi utama.
Amplop putih sudah berada di laci.
Nama itu masih ada.
Tetapi tidak lagi menatapnya setiap malam.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang sambil membawa kantong kain kecil.
“Isinya apa, Mpu?”
“Biji mangga.”
“Untuk apa?”
“Untuk mengajarimu tentang harapan.”
Darma tersenyum.
“Harapan kok biji mangga?”
Mpu Sabak meletakkan biji itu di meja.
“Orang menanam biji mangga karena berharap buah.”
“Betul.”
“Tetapi setelah menanam, ia tidak bisa memaksa pohon berbuah besok pagi.”
Darma diam.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Banyak orang kecewa bukan karena tidak punya harapan.”
“Mereka kecewa karena ingin harapan bekerja sesuai jadwalnya.”
Darma teringat anak perempuannya di luar negeri.
Teringat anak laki-lakinya yang belum menikah.
Teringat organisasi yang belum siap ditinggalkan.
Teringat dirinya sendiri yang belum sepenuhnya damai.
“Mpu,” katanya pelan, “apakah salah berharap?”
“Tidak.”
“Lalu yang salah apa?”
“Memperlakukan harapan seperti piutang.”
Darma menatap Mpu Sabak.
Mpu tersenyum.
“Harapan adalah benih, Darma. Bukan tagihan.”
Darma membuka buku catatan, tetapi tidak segera menulis. Ia hanya membiarkan kalimat itu menunggu:
“Aku boleh berharap.
Tetapi aku tidak boleh menjadikan harapanku sebagai penjara bagi orang lain.”
Di luar, angin malam bergerak pelan.
Dan untuk pertama kalinya, Darma mulai mengerti: mencintai seseorang juga berarti memberi ruang bagi hidupnya untuk berbuah pada musim yang bukan kita tentukan.