Beberapa hari kemudian, Darma menerima telepon dari seorang kerabat.
“Anak perempuanmu sudah isi belum?”
Darma terdiam sebentar.
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Tetapi ia tahu, bagi anaknya, pertanyaan seperti itu mungkin tidak seringan kedengarannya.
“Belum,” jawab Darma.
“Lho, sudah berapa tahun menikah?”
Darma menarik napas.
“Setiap keluarga punya waktunya sendiri.”
Di seberang sana, suara itu tertawa kecil.
“Ya, tapi orang tua kan ingin punya cucu.”
Darma tersenyum tipis.
“Iya. Tapi keinginan orang tua tidak boleh menjadi beban anak.”
Malamnya, Darma menceritakan itu kepada Mpu Sabak.
Mpu Sabak mendengarkan tanpa menyela.
Lalu ia menunjuk biji mangga yang masih tergeletak di meja.
“Darma, mangga dan rambutan sama-sama berbuah.”
“Ya.”
“Tapi tidak pada bulan yang sama.”
Darma menunduk.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Cinta yang dewasa tidak memaksa musim.”
“Ia merawat pohon.”
Di halaman kosong, Darma akhirnya menaruh satu kalimat:
“Aku ingin belajar mencintai anak-anakku tanpa menjadikan harapanku sebagai kalender bagi hidup mereka.”
Di luar, malam tetap tenang.
Dan di dalam hati Darma, ada satu harapan yang perlahan belajar menjadi doa.