preloader

Malam itu Darma mengambil kalender lama dari laci meja.

Banyak tanggal yang dulu ia lingkari.

Rapat.

Reuni.

Acara keluarga.

Janji dokter.

Undangan.

Pengumpulan dana.

Pertemuan alumni.

Hidupnya seperti deretan kotak-kotak kecil yang selalu minta diisi.

Tok.

Tok.

Tok.

Mpu Sabak datang.

Ia memandangi kalender itu.

“Ramai sekali hidupmu.”

Darma tersenyum.

“Kadang aku sendiri heran, Mpu. Mengapa tanggal kosong justru membuatku gelisah.”

Mpu Sabak duduk.

“Karena kau terlalu lama mengira hari kosong adalah hari yang belum berguna.”

Darma terdiam.

Mpu Sabak menunjuk salah satu tanggal yang tidak diberi tanda apa pun.

“Lihat ini.”

“Tidak ada acara.”

“Justru itu.”

“Apa maksudnya?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Tidak semua hari harus menghasilkan sesuatu.”

“Ada hari yang hanya perlu dijalani agar jiwa bisa bernapas.”

Darma memandangi kalender itu.

Untuk pertama kalinya, tanggal kosong tidak tampak seperti kekurangan.

Ia tampak seperti hadiah.

Darma tidak menulis panjang. Ia hanya mencatat inti malam itu:

“Mungkin hidup tidak perlu selalu penuh agar terasa berarti. Kadang yang kosong justru memberi ruang bagi Tuhan untuk lewat.”

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *