Darma mengambil kursi lain dan duduk berhadapan dengan tamu asing itu.
“Panjenengan dari mana?”
Mpu Sabak mengangkat bahu.
“Dari tempat orang sering lupa pulang.”
“Jauh?”
“Tidak. Hanya beberapa langkah dari hati.”
Darma mengernyit.
Ia belum tahu apakah lelaki tua ini sedang bercanda, berfilsafat, atau sekadar tersesat.
“Rumah Panjenengan di mana?”
Mpu Sabak menunjuk dada Darma dengan ujung tongkatnya.
“Kadang di sana.”
Darma tertawa kecil, lebih karena bingung daripada geli.
“Mpu ini aneh.”
“Syukurlah.”
“Kok syukur?”
“Kalau aku biasa-biasa saja, mungkin kau tidak akan mendengarkan.”
Angin malam masuk melalui celah pagar. Bau tanah basah masih tertinggal. Di kejauhan, terdengar suara sepeda motor melintas, lalu hilang ditelan jalan.
Darma memandang pintu kamar. Istrinya sudah tidur. Ia hampir memanggilnya, tetapi entah mengapa tidak jadi.
Mpu Sabak seperti tahu isi kepalanya.
“Jangan bangunkan istrimu.”
“Kenapa?”
“Karena pertemuan ini bukan untuknya.”
“Lalu untuk siapa?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Untuk bagian dirimu yang terlalu lama kauajak bekerja, tetapi jarang kauajak berbicara.”
Darma menunduk.
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi menetap lama.
Di atas meja kecil, gelas air putih Darma belum tersentuh.
Mpu Sabak menunjuk gelas itu.
“Air itu sudah lama menunggumu.”
Darma mengambil gelasnya.
“Cuma air putih.”
“Tidak ada yang cuma-cuma dalam hidup, Darma. Bahkan air putih pun bisa menjadi doa, kalau diminum oleh orang yang tahu bersyukur.”
Darma meneguknya perlahan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sedang dikejar siapa-siapa.
BERSAMBUNG…