Pertanyaan yang Benar
“Panjenengan sebenarnya mau apa, Mpu?”
Mpu Sabak memandang halaman rumah Darma yang masih basah.
“Aku tidak mau apa-apa.”
“Lalu kenapa datang?”
“Karena kau mulai mendengar.”
“Mendengar apa?”
“Dirimu sendiri.”
Darma menarik napas pelan.
“Kalau begitu, mengapa harus sekarang?”
Mpu Sabak tersenyum tipis.
“Karena dulu kau terlalu ramai.”
“Ramai?”
“Umur tiga puluh, kau sibuk mengejar masa depan. Umur empat puluh, kau sibuk menjaga keluarga. Umur lima puluh, kau sibuk membangun nama. Sekarang umur enam puluh empat, kau mulai bertanya: semua ini sebenarnya untuk apa?”
Darma terdiam.
Ia ingin membantah, tetapi tidak menemukan kalimat yang cukup jujur.
Mpu Sabak mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai.
Tok.
“Jangan takut pada pertanyaan, Darma.”
“Mengapa?”
“Karena pertanyaan yang benar sering lebih menyelamatkan daripada jawaban yang tergesa-gesa.”
Jam dinding berdetak pelan.
Di kamar, istrinya tetap tidur.
Di luar, malam makin bening.
Darma menatap lelaki tua itu lebih lama.
“Mpu akan sering datang?”
Mpu Sabak berdiri perlahan.
“Aku datang kalau kau berhenti berlari.”
“Lalu kalau aku berlari lagi?”
“Ya aku duduk saja menunggu.”
“Di mana?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Di tempat yang selalu kauhindari.”
“Di mana itu?”
“Kesunyian.”
Lalu lelaki tua itu melangkah pergi.
Darma bangkit hendak mengantar, tetapi hanya sampai pintu.
Halaman kosong.
Pagar masih terkunci.
Dan di teras, air hujan masih mengkilap seperti baru saja disentuh cahaya.
Malam itu Darma kembali duduk di ruang kerjanya.
Ia membuka buku catatan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menulis bukan daftar pekerjaan, bukan agenda rapat, bukan rancangan sambutan.
Ia hanya menulis satu kalimat: “Setelah pukul delapan, seseorang mengetuk pintu yang selama ini kukira tidak ada.”
BERSAMBUNG…