preloader

Grup Alumni

Darma memandangi kalimat itu cukup lama.

Tulisannya sendiri tampak asing.

Seolah-olah bukan ia yang menulisnya.

Ia menutup buku catatan, lalu membukanya lagi.

Kalimat itu masih di sana.

“Setelah pukul delapan, seseorang mengetuk pintu yang selama ini kukira tidak ada.”

Darma tersenyum kecil.

“Benar-benar aneh,” gumamnya.

Lalu ia mematikan lampu ruang kerja dan masuk kamar.

Namun malam itu ia tidak langsung tidur.

Di sampingnya, istrinya terlelap dengan tenang.

Darma memandang langit-langit kamar.

Entah mengapa, ia teringat ayahnya.

Sudah lebih dari dua puluh tahun ayahnya meninggal.

Tetapi ada satu kenangan yang tiba-tiba muncul.

Ketika ia masih SD.

Suatu sore ia pulang sekolah sambil menangis karena kalah lomba.

Ayahnya tidak menasihati.

Tidak menghibur.

Tidak pula menyuruhnya berhenti menangis.

Ayahnya hanya mengajak berjalan ke sawah.

Di tengah pematang, ayahnya menunjuk seekor burung pipit.

“Lihat itu.”

“Apa, Pak?”

“Dia jatuh berkali-kali waktu belajar terbang.”

“Lalu?”

“Tidak ada burung yang belajar terbang tanpa terlihat bodoh.”

Saat itu Darma tidak mengerti.

Kini, puluhan tahun kemudian, kalimat itu datang kembali.

Seperti surat yang terlambat dibuka.

Keesokan paginya, hidup kembali berjalan seperti biasa.

Telepon mulai berbunyi.

Pesan WhatsApp berdatangan.

Agenda kerja menunggu.

Grup alumni SD ramai.

Grup alumni SMP lebih ramai.

Grup alumni SMA paling ramai.

Darma tertawa sendiri.

Kadang ia berpikir:

Grup alumni adalah bukti bahwa manusia tidak pernah benar-benar lulus dari masa lalunya.

Sebuah pesan masuk.

“Pak Darma, rapat reuni dimajukan hari Sabtu.”

Belum sempat menjawab, muncul pesan lain.

“Pak, ada teman kita yang sedang dirawat di rumah sakit.”

Lalu pesan berikutnya.

“Pak, mohon sambutan untuk acara alumni.”

Darma meletakkan telepon genggamnya.

Ia baru saja duduk.

Belum lima menit.

Dan dunia sudah mulai meminta sesuatu darinya.

Malam harinya, setelah pukul delapan.

Rumah kembali tenang.

Istrinya kembali tidur lebih dulu.

Darma kembali duduk di ruang kerjanya.

Tanpa sadar, matanya melirik ke arah teras.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia tersenyum.

Mungkin semalam hanya mimpi.

Mungkin karena terlalu lelah.

Mungkin karena usia.

Mungkin karena…

Tok.

Tok.

Tok.

Suara tongkat itu kembali terdengar.

Persis seperti malam sebelumnya.

Darma tidak terkejut kali ini.

Ia hanya menghela napas.

Lalu berkata pelan:

“Masuk saja, Mpu. Pintu tidak kukunci.”

Beberapa detik kemudian, Mpu Sabak sudah duduk di kursi yang sama.

Seolah memang tidak pernah pergi.

Mpu Sabak memandang wajah Darma.

“Hari ini kau lelah.”

“Kelihatan?”

“Lelah yang paling mudah terlihat adalah lelah badan.”

“Lalu yang paling sulit?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Lelah karena terlalu dibutuhkan.”

Darma terdiam.

Tepat mengenai sasaran.

“Orang-orang baik sering terjebak di situ,” lanjut Mpu Sabak.

“Maksudnya?”

“Mereka tidak tahu kapan harus berkata cukup.”

“Kalau semua orang berkata cukup, siapa yang mengerjakan?”

Mpu Sabak tertawa pelan.

“Kalau hanya satu orang yang terus mengerjakan, kapan orang lain belajar?”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Darma merasa bahwa percakapan dengan Mpu Sabak tidak sedang membahas alumni.

Tidak sedang membahas pekerjaan.

Tidak sedang membahas organisasi.

Percakapan itu sedang membahas dirinya sendiri.

Dan itulah yang membuatnya tidak nyaman.

BERSAMBUNG…

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *