preloader

Malam itu Darma lupa menyalakan lampu teras.

Biasanya istrinya yang mengingatkan.

Tetapi karena hujan turun sejak sore, rumah terasa lebih gelap dari biasanya.

Tok.

Tok.

Tok.

Mpu Sabak datang.

Ia berdiri di depan pintu, setengah tertutup bayangan.

“Gelap sekali halamanmu,” katanya.

Darma tertawa kecil.

“Lupa menyalakan lampu.”

“Sering begitu manusia.”

“Apa?”

“Lupa menyalakan terang di rumah sendiri, tetapi sibuk menerangi rumah orang lain.”

Darma terdiam.

Ia bangkit, menyalakan lampu teras.

Cahaya kuning menyebar pelan.

Daun-daun basah tampak berkilau.

Mpu Sabak duduk di kursi.

“Darma, orang baik sering lupa satu hal.”

“Apa itu?”

“Bahwa dirinya juga perlu dirawat.”

Darma menarik napas.

“Aku merasa egois kalau terlalu memikirkan diri sendiri.”

Mpu Sabak tersenyum.

“Merawat diri bukan egois.”

“Egois itu ketika kau menuntut orang lain hidup untuk merawat lukamu.”

Darma menunduk.

Mpu Sabak menunjuk lampu teras.

“Lampu yang ingin menerangi jalan orang lain harus tetap tersambung pada sumbernya.”

“Kalau tidak, ia hanya akan menjadi benda bagus yang kehabisan cahaya.”

Darma menunduk, lalu menuliskan sesuatu yang terasa lebih seperti pengakuan:

“Aku tidak boleh padam hanya karena ingin semua orang merasa terang.”

Lalu ia menutup buku catatan.

Di luar, lampu teras tetap menyala.

Bukan terlalu terang.

Tetapi cukup. Dan mungkin, untuk malam itu, cukup adalah bentuk lain dari rahmat.

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *