Pagi itu Darma sedang menyapu halaman.
Bukan karena tidak ada yang bisa melakukannya.
Bukan pula karena ia sangat rajin.
Kadang ia hanya menikmati suara lidi yang bergesekan dengan tanah.
Ada ketenangan yang aneh di dalam pekerjaan sederhana.
Daun-daun kering berkumpul perlahan.
Debu berpindah tempat.
Halaman menjadi lebih bersih.
Tetapi pikiran Darma justru mulai berjalan ke mana-mana.
Tentang pekerjaan.
Tentang alumni.
Tentang anak-anak.
Tentang usia.
Tentang hal-hal yang belum selesai.
Malamnya, setelah pukul delapan.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Di tangannya ada seikat sapu lidi tua.
Darma tertawa.
“Mpu mencuri sapu saya?”
Mpu Sabak ikut tertawa.
“Meminjam.”
“Lalu?”
Mpu Sabak mengangkat sapu itu.
“Apa yang membuat sapu ini berguna?”
“Lidinya.”
“Bukan.”
“Tangkainya?”
“Bukan.”
Darma menyerah.
Mpu Sabak berkata:
“Karena lidi-lidi itu mau tetap bersama.”
Darma mengangguk.
Masuk akal.
Tetapi ia tahu, biasanya ada pelajaran lain yang menunggu.
Mpu Sabak memisahkan satu lidi dari ikatannya.
Lalu menyuruh Darma menyapu lantai dengan satu lidi itu.
Tentu saja tidak berhasil.
Debu hanya berpindah sedikit.
“Nah,” kata Mpu Sabak.
“Kalau sendiri?”
“Sulit.”
“Kalau bersama?”
“Lebih mudah.”
Mpu Sabak mengangguk.
Kemudian menatap Darma.
Lama.
Sampai Darma mulai tidak nyaman.
“Apa?” tanya Darma.
Mpu Sabak tersenyum.
“Engkau terlalu lama menjadi lidi yang menyapu.”
“Sudah waktunya menjadi tali yang mengikat.”
Darma terdiam.
Kalimat itu langsung menuju sasaran.
“Maksud Mpu?”
“Selama ini kau sibuk mengerjakan banyak hal.”
“Ya.”
“Bagus.”
“Lalu?”
“Tapi organisasi tidak membutuhkan pahlawan selamanya.”
Darma mulai mengerti.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Kalau semua pekerjaan selesai karena Darma, itu prestasi.”
“Kalau pekerjaan tetap selesai tanpa Darma, itu warisan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Hanya suara jam dinding yang terdengar.
Tik.
Tik.
Tik.
Darma menunduk.
Selama bertahun-tahun, ia bangga karena bisa menyelesaikan banyak persoalan.
Tetapi malam itu muncul pertanyaan yang lebih sulit:
Apakah aku sungguh membangun orang?
Atau hanya membangun ketergantungan?
Mpu Sabak berdiri.
Lalu mengikat kembali lidi-lidi itu menjadi satu.
“Tahu kenapa sapu tidak pernah menyombongkan diri?”
“Tidak.”
“Karena ia tahu debu tidak pernah selesai.”
Darma tertawa.
“Aneh sekali.”
“Benar.”
Mpu Sabak ikut tertawa.
“Dan itu sebabnya manusia tidak perlu merasa menjadi penyelamat dunia.”
Malam itu Darma membuka buku catatan.
Lalu menulis:
“Tugas seorang pemimpin bukan menjadi orang yang paling dibutuhkan.”
“Tugas seorang pemimpin adalah memastikan semakin banyak orang tidak lagi membutuhkannya.”
Ia membaca ulang kalimat itu.
Lama.
Sangat lama.
Karena ia tahu:
Kalimat itu bukan untuk organisasi.
Bukan untuk alumni.
Bukan untuk kantor. Kalimat itu sedang berbicara tentang dirinya sendiri.