Beberapa minggu kemudian, rapat alumni berjalan tanpa Darma duduk di depan.
Ia sengaja datang terlambat lima menit.
Bukan karena tidak disiplin.
Melainkan karena ingin melihat apakah ruangan itu tetap bisa mulai tanpa dirinya.
Ternyata bisa.
Anehnya, kenyataan itu tidak langsung membuat Darma lega. Ada bagian kecil di dalam dirinya yang tersinggung karena rapat dapat dimulai tanpa menunggu suaranya.
Ia tersenyum, tetapi senyum itu belum sepenuhnya bersih. Di sana masih ada sisa keinginan lama: ingin dibutuhkan.
Di depan, alumni yang lebih muda sedang membuka rapat.
Suaranya belum mantap.
Catatannya masih berantakan.
Sesekali ia menoleh mencari Darma.
Darma hanya tersenyum dari kursi belakang.
Tidak memberi kode.
Tidak mengambil alih.
Tidak menyelamatkan terlalu cepat.
Malamnya, Darma berkata kepada Mpu Sabak:
“Rasanya aneh duduk di belakang.”
Mpu Sabak tertawa.
“Aneh karena kursinya keras?”
“Bukan.”
“Karena tidak semua mata melihatmu?”
Darma diam.
Kena.
Mpu Sabak menunjuk kursi kosong di dekat meja.
“Darma, kursi kosong itu kadang lebih jujur daripada kursi yang diduduki.”
“Maksudnya?”
“Waktu kursi itu kosong, barulah terlihat apakah orang menghormatimu karena dirimu, atau karena tempat dudukmu.”
Darma menunduk.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Jabatan itu kursi pinjaman.”
“Masalahnya, banyak orang duduk terlalu lama sampai lupa bahwa kursi itu bukan bagian dari tubuhnya.”
Setelah lama diam, Darma memberi tempat bagi satu kalimat:
“Aku ingin belajar turun dari kursi sebelum kursi itu menurunkanku dengan paksa.”
Di luar, malam tetap tenang.
Dan di dalam dirinya, Darma mulai mendengar suara kecil yang baru:
bukan suara kehilangan, melainkan suara lega.