Pagi berikutnya, Darma melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan.
Ia menunggu istrinya duduk di meja makan.
Bukan sambil membaca pesan.
Bukan sambil memeriksa agenda.
Bukan sambil setengah hadir.
Ia benar-benar menunggu.
Istrinya menatapnya heran.
“Kamu tidak berangkat pagi?”
“Nanti.”
“Ada apa?”
Darma diam sebentar.
Lalu berkata pelan:
“Terima kasih.”
Istrinya mengerutkan dahi.
“Untuk apa?”
“Untuk teh pagi. Untuk mengingatkan makan. Untuk tidur lebih dulu agar aku punya ruang sunyi. Untuk tidak banyak menuntut ketika aku terlalu sibuk menjadi milik orang lain.”
Istrinya terdiam.
Lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Tumben kamu waras sepagi ini.”
Darma tertawa.
Matanya sedikit basah.
Malamnya, Mpu Sabak datang.
Ia tidak bertanya apa-apa.
Hanya tersenyum.
Darma berkata:
“Mpu, ternyata mengucapkan terima kasih kepada orang dekat lebih sulit daripada kepada orang jauh.”
Mpu Sabak mengangguk.
“Karena kepada orang jauh kita ingin terlihat baik.”
“Kepada orang dekat, kita sering lupa bahwa mereka juga perlu merasa dihargai.”
Darma menyentuh pena, lalu membiarkan satu baris lahir:
“Jangan menunggu kehilangan untuk mengucapkan terima kasih kepada yang setiap hari hadir.”
Di luar, malam tenang. Di dalam rumah, kasih yang lama tinggal di sana akhirnya diberi nama.