Malam itu Darma mengambil telepon genggamnya.
Bukan untuk membaca berita.
Bukan untuk membuka grup alumni.
Ia memilih satu nama.
Lalu menelpon.
Bukan karena ada urusan.
Hanya karena orang itu masih ada.
Dan malam ini, itu sudah cukup menjadi alasan.
Telepon itu tersambung setelah dering keempat.
“Halo?”
Darma tersenyum.
“Masih ingat suaraku?”
Di seberang sana terdengar tawa.
“Lho, Darma! Ada apa?”
Darma diam sebentar.
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi justru di situlah letak masalahnya.
Selama ini ia menelepon orang hampir selalu karena ada apa-apa.
Ada rapat.
Ada iuran.
Ada kabar duka.
Ada acara.
Ada kebutuhan.
Malam itu ia ingin menelepon tanpa membawa kepentingan apa pun.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Darma.
“Hah?”
“Aku cuma ingin mendengar kabarmu.”
Di seberang sana hening sebentar.
Lalu suara itu melembut.
“Wah, kalau begitu aku senang sekali.”
Darma menunduk.
Kadang kasih sayang memang tidak perlu pidato.
Cukup hadir dalam kalimat sederhana:
“Aku cuma ingin mendengar kabarmu.”
Mereka berbicara hampir dua puluh menit.
Tentang kesehatan.
Tentang anak-anak.
Tentang masa lalu.
Tentang lutut yang mulai sering protes.
Tentang tidur yang tidak lagi senyenyak dulu.
Tentang hidup yang ternyata terus berjalan meskipun banyak rencana tidak jadi kenyataan.
Setelah telepon ditutup, Darma memandangi layar ponselnya.
Ia merasa ringan.
Seolah baru saja mengembalikan sesuatu kepada tempatnya.
Kalimat itu datang tanpa perlu dipanggil:
“Hubungan tidak selalu mati karena pertengkaran.
Kadang ia layu karena terlalu lama tidak disiram.”
Di kursi dekat pintu, Mpu Sabak tersenyum.
Entah sejak kapan ia ada di sana.
“Bagus,” katanya.
“Apa yang bagus?”
“Kau baru saja menelpon manusia, bukan urusan.”
Darma tertawa pelan.
Dan malam itu, ia mengerti:
di dunia yang semakin ramai oleh pesan singkat, suara manusia masih memiliki cara sendiri untuk memulangkan hati.