Malam itu, setelah menulis kalimat tentang terima kasih, Darma tidak langsung menutup buku catatannya.
Ia membuka halaman baru.
Lalu menulis judul kecil:
Orang-Orang yang Menemaniku Sampai Hari Ini
Awalnya ia mengira halaman itu akan cepat penuh.
Ternyata tidak.
Ia lama memandangi kertas kosong.
Bukan karena tidak ada orang.
Justru karena terlalu banyak.
Dan setiap nama membawa cerita.
Ia mulai menulis:
Istriku.
Anak-anak.
Ayah.
Ibu.
Guru SD.
Sahabat lama.
Rekan kerja.
Pastor yang pernah mendampingiku.
Tetangga.
Orang-orang yang bahkan mungkin sudah lupa pernah menolongku.
Nama demi nama bermunculan.
Seperti bintang yang muncul ketika langit mulai gelap.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Ia melihat daftar itu.
“Sedang menghitung harta?”
Darma tersenyum.
“Mungkin.”
Mpu Sabak membaca beberapa nama.
Lalu berkata pelan:
“Manusia sering salah menghitung kekayaannya.”
“Maksud Mpu?”
“Kalau ditanya apa yang paling berharga, mereka menunjuk rumah.”
“Lalu?”
“Atau rekening.”
“Atau tanah.”
“Padahal,” lanjut Mpu Sabak, “ketika hidup mulai senja, yang paling sering dicari manusia adalah nama.”
Darma terdiam.
Karena ia tahu itu benar.
Ketika seseorang sakit, ia tidak merindukan saldo.
Ia merindukan kehadiran.
Ketika seseorang berduka, ia tidak mencari sertifikat.
Ia mencari pelukan.
Ketika seseorang meninggal, yang dibicarakan orang bukan jumlah hartanya.
Melainkan siapa saja yang pernah ia kuatkan.
Ia menulis sebentar saja:
“Pada akhirnya, manusia pulang bukan membawa apa yang dimilikinya. Ia pulang membawa siapa yang pernah dicintainya dan siapa yang pernah ia cintai.”