preloader

Pagi ini, mungkin banyak orang berangkat bekerja seperti biasa.

Kereta melintas. Kendaraan memenuhi jalan. Anak-anak berangkat ke sekolah. Warung kopi membuka pintu. Pedagang menggelar dagangan.

Dunia berjalan sebagaimana mestinya.

Tetapi dua puluh tahun yang lalu, pada sebuah pagi yang lain, bumi di Porong membuka mulutnya.

Lumpur panas menyembur dari perut tanah.

Awalnya mungkin hanya dianggap peristiwa biasa. Sesuatu yang bisa diatasi. Sesuatu yang akan berhenti sendiri.

Namun waktu ternyata memilih jalan yang berbeda.

Rumah-rumah tenggelam.

Sawah hilang.

Pabrik berhenti beroperasi.

Sekolah ditinggalkan.

Masjid dan gereja kehilangan jemaatnya.

Kuburan yang menyimpan nama-nama keluarga perlahan lenyap dari pandangan.

Yang hilang bukan hanya bangunan.

Yang hilang adalah alamat kenangan.

Sebab manusia sesungguhnya hidup bukan hanya di sebuah tempat. Manusia hidup di dalam ingatan tentang tempat itu.

Ketika sebuah kampung hilang, yang ikut hilang bukan sekadar deretan rumah. Yang ikut hilang adalah suara anak-anak yang bermain di sore hari. Aroma dapur yang keluar dari jendela. Pohon mangga yang ditanam seorang ayah. Jalan kecil yang setiap hari dilalui menuju sekolah.

Dua puluh tahun telah berlalu.

Anak yang dahulu berumur lima tahun kini telah menjadi orang dewasa.

Sebagian orang telah pindah dan membangun kehidupan baru.

Sebagian memilih bertahan.

Sebagian lagi mungkin sudah berpulang.

Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ingatan.

Waktu memang mampu mengeringkan banyak luka.

Namun waktu tidak pernah benar-benar menghapus jejak yang pernah membentuk hidup seseorang.

Karena itu, setiap kali orang menyebut Porong, sebagian orang tidak hanya melihat sebuah wilayah di peta.

Mereka melihat rumah yang pernah berdiri.

Mereka melihat jalan yang pernah mereka lalui.

Mereka melihat wajah-wajah yang kini hanya tinggal kenangan.

Mungkin itulah sebabnya mengapa sebuah bencana tidak pernah hanya berbicara tentang kerugian materi.

Bencana juga berbicara tentang identitas.

Tentang akar.

Tentang rasa memiliki.

Tentang hubungan manusia dengan tanah tempat ia bertumbuh.

Dua puluh tahun kemudian, lumpur itu mungkin telah menjadi bagian dari lanskap.

Tanggul berdiri.

Wisata lumpur datang dan pergi.

Generasi baru tumbuh tanpa pernah melihat kampung-kampung yang pernah ada.

Tetapi sejarah tidak boleh ikut tenggelam.

Karena bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah kehilangan arah.

Mengingat bukan berarti membuka luka tanpa henti.

Mengingat adalah cara memberi hormat kepada mereka yang pernah kehilangan.

Mengingat adalah cara memastikan bahwa penderitaan tidak berubah menjadi sekadar angka dalam laporan.

Dan mengingat adalah cara menjaga agar kemanusiaan tetap hidup.

Dua puluh tahun telah berlalu.

Lumpur mungkin telah mengubah bentuk tanah.

Tetapi semoga tidak pernah mengubur ingatan kita.

Sebab selama masih ada yang bercerita, selama masih ada yang mengingat, selama masih ada yang menuliskan kisahnya, maka kampung-kampung yang hilang itu sesungguhnya belum benar-benar pergi.

Mereka masih hidup.

Di dalam kenangan.

Di dalam cerita.

Dan di dalam hati orang-orang yang pernah mencintainya.

“Apakah Anda memiliki kenangan tentang Porong, Tanggulangin, Jatirejo, Siring, atau Tugu Kuning yang hingga hari ini masih Anda ingat?

Silakan berbagi di kolom komentar. Mari menjaga ingatan agar tidak ikut tenggelam bersama lumpur.”

www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *