preloader

Malam menyalakan lilin
seperti istriku menyalakan kompor,
menunggu air mendidih
dan doa yang perlahan naik jadi uap.

Kubur masih tertutup rapat,
seperti lemari yang menyimpan pakaian duka.
Orang-orang duduk, diam,
menyulam sabda dengan benang kesabaran.

Di luar, ayam jantan tetangga belum berkokok,
di dalam, cahaya lilin berdesakan
mencari jalan ke mata yang letih.

Sabtu ini sunyi,
tapi sunyi yang sedang hamil:
menyimpan rahasia kelahiran baru,
menyimpan tawa yang sebentar lagi pecah
seperti roti dibagi-bagi.

Dan kita menunggu,
seperti menunggu kereta yang terlambat,
sambil percaya
bahwa ia pasti datang
membawa kabar:
kubur kosong,
hidup penuh cahaya.

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *