preloader

Pagi-pagi sekali, sebelum kopi selesai diseduh, kabar sudah lebih dulu berlari.

Katanya Menteri Keuangan akan diganti.

Katanya rupiah akan jatuh lebih dalam.

Katanya ekonomi sedang tidak baik-baik saja.

Katanya ini. Katanya itu.

Telepon genggam kita penuh dengan kata katanya.

Yang menarik, sering kali kita tidak bertanya dari mana kabar itu berasal. Kita juga tidak terlalu peduli apakah kabar itu benar atau salah. Yang penting kabar itu cocok dengan apa yang sudah kita yakini sebelumnya.

Maka kabar itu kita teruskan.

Kita bagikan.

Kita komentari.

Kita percayai.

Kadang sebelum kita selesai membacanya.

Mungkin di sebuah warung kopi, seorang bapak berkata, “Kalau memang tidak benar, mengapa banyak yang membicarakannya?”

Yang lain mengangguk.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa sesuatu tidak menjadi benar hanya karena ramai dibicarakan.

Dahulu orang pernah percaya bahwa bumi datar.

Ramai.

Banyak yang percaya.

Tetapi tetap saja bumi tidak berubah bentuk karena jumlah orang yang mempercayainya.

Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah jempol.

Zaman ini mungkin bukan kekurangan informasi.

Justru sebaliknya.

Kita kebanjiran informasi.

Yang semakin langka adalah kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya.

Benarkah?

Dari mana sumbernya?

Siapa yang diuntungkan bila aku mempercayai ini?

Apa yang tidak sedang diceritakan kepadaku?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mulai menghilang.

Padahal pertanyaan adalah pagar pertama bagi akal sehat.

Kita hidup di masa ketika kecerdasan buatan berkembang begitu cepat.

Mesin bisa menulis.

Mesin bisa menggambar.

Mesin bisa menerjemahkan.

Mesin bisa menjawab hampir semua pertanyaan.

Namun ada satu hal yang masih menjadi tugas manusia.

Menentukan pertanyaan yang benar.

Karena kualitas jawaban sering kali ditentukan oleh kualitas pertanyaannya.

Mesin yang cerdas tidak akan banyak membantu apabila manusia malas berpikir.

Mungkin itulah sebabnya mengapa banyak persoalan besar tidak lahir dari kebodohan.

Sebagian justru lahir dari kecerdasan yang berhenti bertanya.

Orang pintar dapat membenarkan apa saja.

Orang berpendidikan dapat mencari seribu alasan.

Orang berpengalaman dapat menemukan seratus pembenaran.

Tetapi ketika pertanyaan berhenti, pembenaran mulai mengambil alih.

Di situlah masalah sering dimulai.

Seorang makelar tanah berkata,

“Saya hanya membantu transaksi.”

Seorang pencari orang dalam berkata,

“Saya hanya mempercepat proses.”

Seorang pelanggar aturan berkata,

“Daripada repot, titip uang sidang saja.”

Seorang pejabat berkata,

“Semua orang juga begitu.”

Kalimat-kalimat itu terdengar biasa.

Bahkan terdengar masuk akal.

Namun semuanya berangkat dari satu tempat yang sama.

Pikiran yang berhenti bertanya.

Berhenti bertanya apakah tindakan itu adil.

Berhenti bertanya siapa yang dirugikan.

Berhenti bertanya apakah mudah berarti benar.

Dalam proyek Gerakan Akal Bening, ada satu kalimat yang sangat sederhana:

Mudah belum tentu baik dan benar.

Kalimat itu mungkin tidak terdengar revolusioner.

Tetapi justru karena sederhana, ia sulit dijalankan.

Sebab manusia secara alami menyukai jalan pintas; mencari nikmat menghindari sengsara.

Kita menyukai yang cepat.

Yang praktis.

Yang tidak merepotkan.

Yang tidak perlu berpikir terlalu lama.

Padahal banyak kerusakan besar lahir dari keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah dipertanyakan.

Korupsi juga demikian.

Ia tidak dimulai ketika uang berpindah tangan.

Ia tidak dimulai ketika dokumen dimanipulasi.

Ia tidak dimulai ketika anggaran dibagi-bagi.

Korupsi dimulai jauh sebelumnya.

Saat pikiran berkata:

“Tidak apa-apa.”

“Sekali ini saja.”

“Semua orang juga melakukannya.”

“Yang penting tidak ketahuan.”

Pada saat itulah korupsi sebenarnya sedang bertumbuh.

Bukan di tangan.

Tetapi di dalam nalar.

Karena itu, mungkin tugas paling penting hari ini bukan mencari jawaban.

Melainkan memelihara keberanian untuk terus bertanya.

Bertanya kepada berita yang datang.

Bertanya kepada kebiasaan yang diwariskan.

Bertanya kepada sistem yang dianggap normal.

Bertanya kepada diri sendiri.

Sebab ketika pertanyaan mati, akal sehat perlahan ikut mati bersamanya.

Dan ketika akal sehat mati, kebohongan tidak perlu lagi memaksa masuk.

Ia akan diterima dengan sukarela.

Maka pagi ini, sebelum kita meneruskan sebuah kabar, sebelum kita menyetujui sebuah alasan, sebelum kita memilih sebuah jalan pintas, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak.

Lalu bertanya.

Satu pertanyaan sederhana.

Benarkah?

Karena mungkin, dari satu pertanyaan kecil itulah, kejujuran dapat mulai tumbuh kembali.Dan seperti yang sering diingatkan oleh Gerakan Akal Bening:

Korupsi tidak dimulai ketika tangan mengambil. Ia dimulai ketika pikiran berhenti bertanya.

Saya baru selesai menulis Novel tentang Pikiran Yang Terkorupsi, semoga dalam waktu dekat akan sampai di Ruang Baca Anda.

www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *