preloader

BAB 2

Nama yang Berat

Darma tidak segera menjawab.

Bukan karena ia lupa namanya.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, pertanyaan sesederhana itu terasa seperti pemeriksaan.

Selama ini orang memanggilnya dengan banyak sebutan.

Pak Darma.

Pak Ketua.

Pak Bos.

Pak Alumni.

Pak Penulis.

Pak Pengurus.

Pak Panitia.

Pak ini.

Pak itu.

Tetapi malam itu, di hadapan seorang tua yang muncul setelah pukul delapan malam, Darma merasa semua sebutan itu terlalu ramai untuk menjawab satu pertanyaan sederhana.

“Saya Darma,” katanya akhirnya.

Mpu Sabak mengangguk pelan.

“Darma,” ulangnya, seperti sedang mencicipi arti nama itu.

“Nama yang berat.”

Darma tersenyum canggung.

“Berat bagaimana?”

Mpu Sabak menatapnya.

“Karena orang yang bernama Darma sering merasa harus berguna setiap saat.”

Darma tercekat.

Di luar, sisa hujan masih menetes dari genting.

Mpu Sabak duduk di kursi teras tanpa menunggu dipersilakan.

“Boleh saya duduk?”

Darma hampir tertawa.

“Sudah duduk, Mpu.”

“Nah, itu pelajaran pertama,” kata Mpu Sabak.

“Apa?”

“Kadang manusia meminta izin setelah hatinya lebih dulu mengambil keputusan.”

Darma diam.

Malam itu, jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat tiga belas menit.

Dan sejak saat itu, Darma tahu: kesunyiannya tidak akan pernah sama lagi.

BERSAMBUNG…

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *